Bisa Jadi, Mereka
Lebih Pintar Soal Sabar dan Ikhlas
Tepat pada tanggal 8 Mei 2014 saya
bersama dua orang teman saya mengunjungi sebuah panti asuhan yatim piatu di
daerah Pelni, Depok. Namanya ‘Yayasan Bina Remaja Mandiri’. Awalnya, saya
mengira yayasan ini adalah yayasan yang besar dengan bangunan yang luas. Namun,
sesampainya disana, saya sedikit terkejut karena ternyata bangunan yayasan ini
tidak besar dan sangat sederhana. Kami disambut oleh Ibu Ferlia, seorang wanita
berumur 30 tahun yang mendirikan yayasan ini sejak beliau berumur 22 tahun.
Mungkin banyak diantara kita, ketika mencapai usia 22 tahun masih berkecimpung
dengan lembar kerja tugas, rentetan jadwal ujian, atau bahkan berbaris-baris daftar
impian yang ingin dicapai satu sampai lima tahun mendatang. Saya tidak bilang
semua itu jelek. Tugas, ujian, deadline,
rencana impian dan pencapaian….semua itu memang wajib kita susun dan kerjakan.
Tapi ada banyak orang yang berbeda di antara kita. Yang tidak hanya mengerjakan
kewajibannya sebagai pembelajar, tetapi juga melaksanakan kewajibannya sebagai pengabdi
negara. Salah satunya adalah Ibu Ferlia ini. Seorang Ibu yang ingin mengabdi
untuk negara dan agamanya. Seorang Ibu yang ingin meringankan beban dan
kewajiban negara untuk membantu fakir miskin dan anak-anak terlantar
seperti yang tertuang dalam
Undang-Undang Dasar Negara’45 pasal 34 ayat 1.
Sekitar
tahun 2007, Ibu Ferlia telah memberanikan diri untuk mendirikan sebuah yayasan
dan menghidupi anak yatim dan anak piatu. Pada saat pertama kali didirikan, yayasan
ini memiliki sepuluh anak asuhan remaja perempuan dan bertempat di Jakarta.
Sepuluh anak remaja ini berasal dari keluarga golongan ekonomi rendah dan orang
tua mereka adalah single parent (memiliki
ibu saja atau bapak saja). Karena satu dan lain hal, akhirnya Ibu Ferlia pindah
ke Depok bersama keluarga dan anak-anak asuhnya.
Beberapa tahun setelah tinggal di
Depok, anak asuh di yayasan ini semakin bertambah. Hal ini dikarenakan Dinas Sosial
Kota Depok dan Kepolisian Kota Depok menitipkan beberapa bayi yang terlantar
atau dibuang oleh orang tuanya. Karena banyaknya balita yang dititipkan pada
yayasan ini, akhirnya ibu Ferlia membagi yayasan ini menjadi dua, yaitu Yayasan
Bina Remaja Mandiri dan Yayasan Bina Balita Ceria. Kedua yayasan ini memiliki
tempat yang berbeda meski dalam satu kawasan. Yayasan Bina Balita Ceria
merupakan tempat untuk para balita dan remaja putri. Sedangkan Yayasan Bina
Remaja Mandiri merupakan tempat untuk anak-anak di atas lima tahun dan remaja
laki-laki. Kini yayasan ini memiliki 35 anak asuhan. Tujuh diantaranya tidak
tinggal di panti karena masih memiliki bapak atau ibu. Namun, karena ibu atau
bapaknya tidak mampu mencukupi kebutuhan anak-anaknya, ibu Ferlia memutuskan
untuk membiayai kebutuhan sehari-hari dan pendidikan anak-anak tersebut.
Selalu
ada cerita di balik wajah mungil dan keceriaan balita-balita di yayasan ini.
Pada saat kami berkunjung, para balita di yayasan ini sedang terlelap dalam
tidur siangnya. Namun, ada beberapa adik yang sudah terbangun dan akhirnya
bermain bersama kami. Sulis, seorang anak berusia tiga tahun. Saat pertama kali
bertemu dengan kami, ia terlihat malu-malu, tidak ingin berjabat tangan, namun
dengan seksama menatap dan memperhatikan aktivitas kami. Lambat laun, ia mulai
mau berbicara dan memperkenalkan dirinya kepada kami. Sulis ini sudah tidak
memiliki ibu. Ia tak sempat merasakan hangatnya dekapan seorang ibu. Sebelum
berada di yayasan ini, ia selalu berada di rumahnya…… sendirian. Bapak Sulis
seringkali meninggalkan Sulis sendirian di rumah, bahkan ketika Sulis berumur
kurang dari tiga. Hal ini disebabkan Bapak Sulis harus bekerja kesana kemari,
pagi sampai malam. Saat ditemukan oleh ibu Ferlia, anak ini terlihat kotor
sekali dan sama sekali tidak terurus. Ibu Ferlia akhirnya memohon izin kepada Bapak
Sulis untuk merawat Sulis di Yayasan Bina Balita. Setelah bapak Sulis
menyetujui, ibu Ferlia membawa Sulis ke yayasan, merawatnya, dan mengajarkan ia
banyak hal. Hari-hari pertama Sulis tinggal di yayasan, ia sering kali buang
air besar sembarangan karena tidak pernah mendapatkan toilet training dari orang tuanya. Ketika hendak makan, ia tidak
pernah cuci tangan meski tangannya begitu kotor. Karakter Sulis pun masih
kurang baik. Ibu Ferlia mendidik, merawat, dan membimbing Sulis sampai akhirnya
kini Sulis sudah tidak kotor lagi, bisa kencing dan buang air besar sendiri di
toilet, makannya bersih dan teratur.
Ada
lagi Raihan. Seorang anak berusia lima tahun. Meski usianya sudah lima tahun,
namun ia belum mampu berjalan seperti anak-anak seusianya. Kakinya mengalami
paralisis, ia susah berbicara, dan terkadang tidak mampu berespon karena ada
gangguan sistem saraf pusat. Wajah Raihan begitu lugu dan tampan. Saya tahu, ia
ingin bicara banyak hal. Ia ingin mengekspresikan kebahagiaannya. Ia ingin
menunjukkan keceriaannya. Namun, ia sangat sulit mengungkapkannya karena susah
bicara dan bergerak bebas layaknya anak-anak pada umumnya. Ibu Raihan mengalami
depresi berat sehingga Raihan diserahkan pada panti yang bisa mengurusnya. Saya
tidak melihat raut muka sedih pada Raihan meski ia hidup dalam keterbatasan dan
kepiluan. Maka, menjadi hal yang menyedihkan sekali jika kita-yang memiliki
orang tua lengkap dan fisik yang sempurna-selalu mengeluh dan tidak bersyukur.
Kisah
lain datang dari seorang bayi berusia delapan bulan bernama Rivaldi. Rivaldi
sudah tinggal di yayasan ini sejak ia berusia satu bulan. Bapak Rivaldi telah
tiada. Sedangkan ibu dan nenek Rivaldi terjerat hukuman penjara selama beberapa
tahun karena terlibat dalam tindak kriminal. Wajah Rivaldi yang begitu polos
dan badannya yang berisi membuat saya dan dua teman saya betah berlama-lama di
panti ini. Rivaldi adalah bayi yang begitu aktif, tak bisa diam, dan jarang
menangis. Saya pikir, setiap orang yang bertemu Rivaldi pasti akan jatuh cinta
karena tingkah lakunya.
Mungkin
masih banyak cerita di balik anak-anak mungil di yayasan ini yang serupa atau
lebih parah dari ketiga anak yang saya sebutkan sebelumnya. Kami memang masih
belum menelusuri kisah di balik balita-balita mungil itu, tapi hati saya rasanya
terhantam. Mereka, yang kisahnya memilukan, tidak pernah menangis
menjerit-jerit menyesali takdirnya. Mereka yang tak seberuntung kita, yang belum
sempat merasakan belaian tangan ibu, tidak pernah menuntut banyak kepada Tuhan.
Terbukti, bahwa anak-anak memang lebih pintar soal ikhlas dan sabar
dibandingkan kita yang telah dewasa.
Kedua
rumah yang ditempati oleh yayasan ini adalah rumah kontrakan yang setiap tahunnya
harus membayar Rp. 12.000.000, 00 per rumah. Anak-anak di yayasan ini bisa saja
tersingkir jika sang pemilik rumah enggan memperpanjang masa kontrak. Biaya
pengeluaran dan operasional kedua yayasan ini cukup besar, mulai dari gaji
pengasuh, kebutuhan susu, makanan sehari-hari, peralatan mandi dan biaya
perawatan, biaya pendidikan, dan biaya-biaya tak terduga lainnya. Ibu Ferlia menutup
dana pengeluaran tersebut dengan gajinya dan gaji suaminya, CSR perusahaan
indosat, dan bantuan pemerintah. Namun, hal yang perlu diketahui bahwa gaji ibu
Ferlia dan suami menutupi sekitar 50% pengeluaran, CSR perusahaan indosat
menutupi sekitar 25% pengeluaran, dan bantuan dari pemerintah hanya sedikit
memberikan kontribusi. Pemerintah hanya memberikan biaya Rp.
800.000/tahun/anak. Sedangkan kebutuhan hidup dan pendidikan anak per tahun
jauh dari angka tersebut. Yayasan ini juga bergantung pada donatur untuk
menutupi seluruh pengeluarannya.
Tahun
ini, bantuan CSR perusahan Indosat sudah berakhir dan saat ini yayasan sedang dalam
usaha untuk perpanjangan kontrak. Kita semua doakan ya agar Indosat mau
memperpanjang kontraknya. Namun, dalam pikiran saya terlintas bahwa kita
sebetulnya juga bisa memberikan kontribusi untuk yayasan ini. Apa itu?
Rumah.
Rumah adalah salah satu mimpi besar Ibu Ferlia. Karena jika mereka memiliki
rumah tetap sendiri, hal itu bisa memangkas pengeluaran dan memberikan jaminan
tempat tinggal bagi seluruh warga panti. Saya yakin, kita semua bisa
bekerjasama dan berkolaborasi untuk mewujudkan mimpi Ibu Ferlia dan anak-anak
panti. Saya butuh bantuan dan kolaborasi teman-teman semua untuk mewujudkan
mimpi Ibu Ferlia dan anak-anak Yayasan Bina Balita Ceria. Jika teman-teman
ingin berkontribusi, saya dengan senang hati akan menyambut! J



Boleh tau alamat lengkap pantinya mba? Atau adakah no telp yg bs dihub?
ReplyDeleteMb boleh tahu alamatnya ? Saya sudah cari di jalan brantas tapi tidak ada.
ReplyDeleteKalau bisa minta kontak personnya deh mb, patokannya apa? Apakah sudah pindah lagi ? Thanks sebelumnya
ReplyDeleteKami di Dubril Badan Loan menawarkan pinjaman aman dan tidak aman untuk individu, pembentukan pribadi dan umum.
ReplyDeletetingkat bunga kami adalah pada tingkat yang terjangkau dari 2% dan kami proses pinjaman / pengadaan adalah yang terbaik yang pernah Anda dapat mendapatkan.
Kami menawarkan setiap jumlah pinjaman dan untuk alasan yang masuk akal.
Hubungi kami hari ini untuk pinjaman Anda melalui,
Email: dubrilloanfirm@gmail.com
Skype: dubrilloanfirm
Hallo mba.. Salam kenal. Boleh saya tau alamat yayasan bina balita ceria? Atau nomor telepon yang bisa dihubungi??
ReplyDeleteTerima kasih
Hallo mba.. Salam kenal. Boleh saya tau alamat yayasan bina balita ceria? Atau nomor telepon yang bisa dihubungi??
ReplyDeleteTerima kasih
Assalamualaikum salam kenal , saya boleh minta alamat terbaru yayasan bina balita ceria dan no telphone yg bisa di hubungi. Terima kasih
ReplyDeleteAssalamualaikum salam kenal , saya boleh minta alamat terbaru yayasan bina balita ceria dan no telphone yg bisa di hubungi. Terima kasih
ReplyDelete