Wednesday, April 30, 2014

Praktik Keperawatan sebagai Inovasi Bisnis Sosial di Bidang Kesehatan
Faiqa Himma Emalia
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia

Pendahuluan
Peradaban terus bergulir, ilmu pengetahuan dan teknologi pun tidak berhenti berkembang. Namun, usaha peningkatan kesejahteraan rakyat Indonesia masih belum menunjukkan hasil yang signifikan. Berbagai masalah sosial, pendidikan, ekonomi, dan kesehatan tak kunjung terselesaikan dan justru semakin mengakar. Kemiskinan di Indonesia hingga kini menjadi persoalan utama yang belum terselesaikan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, indeks kedalaman kemiskinan pada bulan Maret 2013 mencapai 1,75 dan mengalami kenaikan menjadi 1,89 pada bulan September 2013.1 Angka tersebut menggambarkan kondisi kemiskinan Indonesia yang memprihatinkan dan berdampak negatif terhadap aspek lain, seperti kesehatan yang tidak terpelihara, akses pendidikan yang semakin sempit, dan kemunculan stigma sosial. Tentunya, hal ini tidak hanya menjadi tanggung jawab konstitusional pemerintah, tetapi juga tanggung jawab moral bagi pihak swasta dan warga negara Indonesia. Seluruh elemen perlu berkontribusi dan berkolaborasi nyata untuk pencapaian kesejahteraan bangsa.
Salah satu kontribusi yang dapat dilakukan oleh swasta dan warga negara Indonesia adalah menciptakan bisnis sosial, yakni inovasi sosial yang menyatupadukan praktik bisnis (entrepreneurship) dengan kegiatan atau misi sosial. Bisnis sosial dapat dibentuk oleh siapapun, termasuk tenaga kesehatan dan pemuda. Tenaga kesehatan profesional maupun mahasiswa bidang kesehatan, termasuk mahasiswa Ilmu Keperawatan memiliki andil untuk membangun bisnis sosial sebagai solusi untuk mengurangi angka kemiskinan sekaligus meningkatkan status kesehatan masyarakat. Esai ini membahas tentang konsep bisnis sosial, peran dan dampak bisnis sosial di bidang kesehatan, serta pelayanan keperawatan yang dapat dieksplorasi dan dikembangkan untuk menjadi sebuah bisnis sosial.

Bisnis Sosial sebagai Inovasi Peningkatan Kesejahteraan  Masyarakat
Definisi bisnis sosial masih diperdebatkan oleh berbagai ilmuwan dan institusi. Pengertiannya sangat bervariasi dan tidak ada definisi yang absolut. Menurut Mair & Marti (2006), professor dan akademisi IESE Business School, mendefinisikan bisnis sosial sebagai proses yang melibatkan inovasi dan perpaduan sumber daya sebagai katalisator perubahan sosial dan pemenuhan kebutuhan sosial.2 Austin, et al. (2006) menyebutkan bahwa bisnis sosial adalah sebuah pemikiran dan sikap yang menggunakan bisnis untuk kepentingan profit maupun non profit, sektor publik atau lintas sektor, seperti kolaborasi organisasi yang menggunakan perpaduan antara pendekatan profit dan non profit.3 Pengertian-pengertian tersebut mengandung pemahaman bahwa bisnis sosial merupakan praktik yang memadukan konsep dan usaha bisnis dengan misi sosial, dimana pelakunya memanfaatkan kemampuan entrepreneurship untuk mengatasi masalah-masalah sosial, ekonomi, pendidikan, dan kesehatan.
Perbedaan bisnis sosial dengan bisnis kapitalis maupun organisasi sosial terletak pada kombinasi tiga aspek, yaitu sektor privat, sektor publik, dan kerelawanan. Pertama, komponen sektor privat dalam bisnis sosial dimaksudkan pada pencapaian keuntungan yang ditujukan untuk kepentingan perkembangan perusahaan. Kedua, komponen sektor publik dalam bisnis sosial merupakan pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber daya alam untuk diberdayakan dalam operasional bisnis. Ketiga, komponen kerelawanan pada bisnis sosial dimaknai sebagai usaha sukarela yang ditujukan pada peningkatan kesejahteraan dan pengembangan masyarakat dari berbagai aspek.
Adanya kombinasi tiga aspek dalam bisnis sosial mendiferensiasikan bisnis sosial dengan perusahaan komersial ataupun dengan lembaga-lembaga sosial seperti yayasan, lembaga amal, dan lembaga lainnya yang bersifat sukarela. Bisnis sosial tidak berorientasi pada perolehan profit setinggi-tingginya seperti perusahaan kapitalis. Namun, bisnis sosial juga tidak menggantungkan siklus kehidupannya pada donatur atau bantuan pemerintah seperti lembaga sosial.
Salah satu contoh dari eksistensi bisnis sosial adalah perusahaan Grameen Bank, didirikan oleh Muhammad Yunus, yang telah berhasil membangkitkan perekonomian empat juta wanita miskin di Bangladesh melalui usaha kredit mikro. Dalam perjalanannya, Grameen Bank berkembang pesat membawahi delapan lembaga profit dan non-profit yang mendorong peningkatan derajat masyarakat miskin. Pada tahun 2005, divisi perbankannya mencatat keuntungan sebesar 15,21 juta US dolar. Prestasi tersebut mengantarkan Muhammad Yunus dan Grameen Bank sebagai peraih pengharagaan Nobel Perdamaian Dunia pada tahun 2006.4

       Peluang Bisnis Sosial di Bidang Kesehatan
Seiring dengan berkembangnya istilah bisnis sosial di berbagai negara, termasuk di Indonesia, tidak sedikit para pengusaha yang mengubah bisnis konvensionalnya menjadi bisnis sosial. Para pemuda dari berbagai kalangan pun turut serta dalam mengembangkan bisnis sosial di Indonesia. Sayangnya, sampai saat ini bisnis sosial di Indonesia didominasi oleh bisnis sosial yang hanya berfokus pada penurunan angka kemiskinan. Masih jarang ditemukan bisnis sosial di Indonesia yang memberikan manfaat tambahan, seperti manfaat di sektor kesehatan. Padahal, bisnis sosial dapat mengatasi atau setidaknya meminimalisasi masalah-masalah kesehatan yang memerlukan solusi kuratif, preventif, ataupun promotif.
Pelayanan kesehatan yang bersifat kuratif mungkin kini lebih mudah diakses Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) dengan diberlakukannya program jaminan kesehatan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) tahun ini. Sedangkan, pelayanan kesehatan preventif dan promotif masih belum terakses secara luas dan gerakannya masih tersendat berbagai kendala. Misalnya perawat puskesmas tidak mampu menjalankan program kesehatan komunitas secara maksimal karena keterbatasan dana, berbagai institusi kesehatan yang tidak mengoperasikan kegiatannya karena bergantung pada donatur dan bantuan pemerintah, dan kendala-kendala lainnya. Masalah-masalah tersebut dapat diatasi melalui praktik bisnis sosial.
Bedasarkan konsep Muhammad Yunus (2010), pendiri Grameen Bank, suatu bisnis sosial dapat dibentuk dengan memetakan proposisi nilai, konstelasi nilai, dan persamaan profit.5 Begitu pula dengan bisnis sosial dalam bidang kesehatan. Proposisi nilai memuat pertanyaan-pertanyaan tentang apa produk atau layanan yang akan ditawarkan dan siapa pelanggan atau target pemasarannya. Proposisi nilai ini akan saling berkaitan dengan konstelasi nilai yang mengungkit strategi tentang bagaimana cara menawarkan produk atau pelayanan kepada pelanggan, siapa saja mitra yang terlibat, dan siapa supplier yang dapat digunakan. Sedangkan persamaan profit merupakan hubungan dari proposisi nilai dan konstelasi nilai yang menghasilkan elaborasi tentang profit yang diperoleh perusahaan, alokasi dana untuk gaji tenaga kerja, dan biaya produksi yang keluar. Konsep ini dapat membantu tenaga kesehatan profesional dan mahasiswa bidang kesehatan untuk membentuk sebuah bisnis sosial di bidang kesehatan.
Strategi bisnis sosial di bidang kesehatan dapat bervariasi sesuai dengan pelayanan dan produk spesifik yang ditawarkan. Contohnya, pelaku bisnis sosial di bidang kesehatan dapat memanfaatkan profit dari usaha non-kesehatan sebagai sumber dana pelayanan kesehatan masyarakat marjinal. Strategi lainnya, pelaku bisnis sosial dapat menjalankan pelayanan atau produk kesehatan berkualitas dengan menekan biaya operasional produksi sehingga harga yang ditawarkan dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat, terutama MBR.
Melalui bisnis sosial di bidang kesehatan, masyarakat dapat mengakses pelayanan kesehatan holistik, baik berupa pelayanan preventif, kuratif, maupun promotif, dengan cuma-cuma atau dengan harga terjangkau. Inti dari praktik ini adalah menggunakan konsep ekonomi kesehatan untuk menghasilkan sumber dana dalam memberikan pelayanan kesehatan komunitas. Selain itu, bisnis sosial memungkinkan institusi pemberi layanan kesehatan untuk bertahan, berkembang, dan berkelanjutan karena tidak bergantung pada aliran dana dari donatur ataupun pemerintah.
Beberapa kegiatan bisnis sosial telah terbentuk baik di Indonesia, maupun di luar negeri. Contohnya, sekolah keperawatan yang didirikan oleh Florence Nightingale, pada tahun 1860 di London, Inggris untuk membentuk perawat profesional yang memperhatikan aspek keamanan dan hygiene.6 Kolaborasi antara Grameen dan Danone yang menciptakan produk yoghurt bernutrisi tinggi dengan harga terjangkau untuk mengatasi masalah malnutrisi anak-anak di Bangladesh pada tahun 2005.7
Sedangkan, contoh bisnis sosial kesehatan di Indonesia antara lain bisnis Gamal Albinsaid, seorang dokter muda dari Universitas Brawijaya, berhasil mendapatkan berbagai penghargaan atas kontribusinya menciptakan sebuah Klinik Asuransi Sampah. Klinik tersebut memberikan pelayanan preventif, promotif, kuratif, dan rehabilitatif kepada masyarakat. Masyarakat hanya cukup membayar pelayanan kesehatan tersebut dengan sampah. Sampah yang terkumpul dari masyarakat akan diolah untuk menghasilkan profit yang digunakan untuk menutupi biaya produksi. Melalui Klinik Asuransi Sampah, sekitar 500 warga Malang dapat mengakses pelayanan kesehatan primer hanya dengan menyerahkan sampah kering.8 Ini merupakan bukti nyata bahwa bisnis sosial di bidang kesehatan dapat berkontribusi terhadap pembangunan kesehatan dan peningkatan kesejahteraan bangsa Indonesia.

Praktik Keperawatan sebagai Inovasi Bisnis Sosial di Bidang Kesehatan
Praktik keperawatan adalah salah satu lahan yang strategis untuk bertransformasi menjadi bisnis sosial di bidang kesehatan. Pelayanan keperawatan seperti perawatan paliatif hospice care, pelayanan perawatan luka diabetes, nursing home untuk pasien lanjut usia, dan berbagai perawatan komplementer yang tersertifikasi merupakan contoh-contoh pelayanan keperawatan yang dapat dijadikan sebagai bisnis sosial. Para tenaga keperawatan profesional dan mahasiswa keperawatan dapat berkolaborasi untuk menyediakan pelayanan keperawatan berkualitas yang dapat dijangkau berbagai kalangan.
Contoh strategi yang dapat digunakan adalah pemberi layanan keperawatan menyediakan pelayanan untuk masyarakat golongan ekonomi menengah ke atas dengan orientasi profit optimal. Hasil dari profit tersebut digunakan untuk mengganti biaya produksi dan menjalankan program kesehatan bersifat preventif, promotif, dan rehabilitatif kepada masyarakat golongan bawah secara cuma-cuma atau harga yang rendah. Melalui siklus ini, pelayanan keperawatan yang berkualitas dapat dinikmati oleh masyarakat golongan menengah ke atas, juga dapat diakses oleh masyarakat golongan bawah.
Bisnis sosial di bidang keperawatan dapat berkontribusi besar dalam mengatasi masalah kesehatan masyarakat Indonesia, seperti masalah tingginya angka hipertensi di Indonesia. Menurut Riset Kesehatan Dasar, 2013, prevalensi penderita hipertensi di Indonesia cukup tinggi yaitu sebesar 25,8%.9 Sebagian besar penderita belum teredukasi mengenai hipertensi dan tidak menyadari bahwa dirinya telah mengalami hipertensi10. Hipertensi yang tidak mendapatkan penanganan lebih lanjut beresiko besar terhadap kerusakan organ lain seperti organ ginjal, jantung, dan otak.
Pada persoalan hipertensi misalnya, perawat memiliki peran untuk memberikan perawatan preventif, promotif, dan rehabilitatif melalui pengontrolan tekanan darah, pendidikan kesehatan, dan konsultan gaya hidup klien. Perawatan ini dapat dikemas menjadi sebuah bisnis sosial yang menyediakan pelayanan berupa pemeriksaan dan konsultasi kesehatan. Tim perawat dapat mengambil profit optimal bagi klien golongan ekonomi menengah ke atas dan memberikan potongan harga kepada masyarakat golongan ekonomi bawah. Dampak dari bisnis sosial sederhana tersebut bersifat divergen karena mencakup semua golongan dan berpengaruh terhadap berbagai aspek.
Pada kenyataannya bisnis sosial dengan menggunakan praktik keperawatan belum berkembang karena menghadapi berbagai tantangan. Tantangan-tantangan yang muncul antara lain sebagian besar tenaga keperawatan profesional dan mahasiswa keperawatan belum mengenal bisnis sosial secara mendalam, belum terbentuknya kemampuan entrepreneurship di kalangan perawat, stigma negatif masyarakat terhadap praktik keperawatan mandiri, dan lemahnya perlindungan hukum bagi perawat.
Tantangan-tantangan tersebut dapat diatasi dengan peran para tokoh keperawatan dalam lembaga Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), pendidik dan ilmuwan, praktisi keperawatan, serta mahasiswa keperawatan. Para tokoh keperawatan dapat berperan dalam mengadvokasi dan mendukung para perawat untuk menciptakan bisnis sosial. Advokasi dan dukungan yang diberikan dapat berupa pencarian investor, sertifikasi praktik keperawatan mandiri yang tidak rumit, dan pelatihan sumber daya manusia. Tenaga pendidik dapat mengambil peran sebagai pengembang dan peneliti praktik keperawatan, serta sebagai pembimbing mahasiswa untuk menjalankan bisnis sosial. Praktisi dan mahasiswa keperawatan dapat berkontribusi sebagai inisiator dan eksekutor bisnis sosial, serta pengembang iklim bisnis sosial di bidang kesehatan. Kolaborasi dari berbagai elemen akan menghasilkan praktik bisnis sosial yang produktif dan memberikan solusi jangka panjang terhadap masalah-masalah kesehatan masyarakat.
Kesimpulan
      Masalah kemiskinan yang terjadi di Indonesia dapat memberikan dampak negatif terhadap aspek lain, termasuk aspek kesehatan. Masalah tersebut perlu ditangani oleh seluruh komponen bangsa, baik pemerintah, swasta, maupun warga negara. Oleh karena itu, diperlukan solusi alternatif yang dapat dilakukan oleh semua pihak, yaitu bisnis sosial.  
Bisnis sosial di bidang kesehatan ternyata mampu memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan kesejahteraan bangsa Indonesia. Masalah-masalah kesehatan masyarakat dapat ditekan melalui eksistensi dari bisnis sosial. Praktik keperawatan merupakan lahan yang strategis untuk mengembangkan bisnis sosial di bidang kesehatan. Tentunya, praktik ini perlu mendapat perhatian dan dukungan berbagai pihak, termasuk para tokoh keperawatan, pendidik, tenaga profesional, dan mahasiswa. Apabila seluruh elemen ini berkolaborasi bukan tidak mungkin bisnis sosial di bidang keperawatan menjadi kontributor terbesar dalam peningkatan pembangunan kesehatan Indonesia.




Referensi
1Badan Pusat Statistik. (2013), Jumlah dan Presentase Penduduk Miskin, Garis Kemiskinan, Indeks Kedalaman Kemiskinan, dan Indeks Keparahan Kemiskinan Menurut Provinsi, diakses dari http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&id_subyek=23&notab=1, pada tanggal 9 Maret 2014 pukul 18:42
2Muhammad Yunus. (2010), Bertrand Moingeon dan Laurence Lehmann-Ortega, Building Social Business Models: Lessons from the Grameen Experience, Long Range Planning, 43, Elsevier Ltd, London, England,  hlm 4.
3Giulia Galera & Carlo Borzaga. (2009), Social Enterprise: An International Overview of Its Conceptual Evolution and Legal Implementation, Social Enterprise Journal, 5:3, Emerald Group Publishing Limited, Bingley, England, hlm 2
4Portal Online Suara Merdeka, Kisah Pemotongan Lingkaran Kemiskinan, diakses dari http://m.suaramerdeka.com/index.php/read/entertainmen/2007/06/04/354, pada tanggal 9 Maret 2014 pukul 18.38
5Muhammad Yunus, op.cit. hlm 5
6BBC., Florence Nightingale (1820-1910), http://www.bbc.co.uk/history/historic_figures/nightingale_florence.shtml. diakses tanggal 10 Maret 2014 pukul 09.17
7Grameen Danone Ltd, The Project’s History, diakses dari http://www.danonecommunities.com/en/project/grameen-danone-foods-ltd, pada tanggal 10 Maret 2014 pukul 9.22
8Portal Online Kompas. Cerita Anggota Klinik Asuransi Sampah, diakses dari http://regional.kompas.com/read/2014/01/19/1536004/Cerita.Anggota.Klinik.Asuransi.Sampah, pada tanggal 8 Maret 2014 pukul 22:21
9Kementrian Kesehatan. (2013), Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, diakses dari http://depkes.go.id/downloads/riskesdas2013/Hasil%20Riskesdas%202013.pdf, pada tanggal 11 Maret 2014 pukul 22:48


10Portal Online Metro TV News, Hipertensi Tantangan Terbesar Dokter Indonesia, diakses dari http://showbiz.metrotvnews.com/read/2014/03/07/216727/hipertensi-tantangan-besar-dokter-indonesia#.UxxKAz-Jckp, pada tanggal 9 Maret 2014 pukul 18:38

1 comment:

  1. Kami di Dubril Badan Loan menawarkan pinjaman aman dan tidak aman untuk individu, pembentukan pribadi dan umum.
    tingkat bunga kami adalah pada tingkat yang terjangkau dari 2% dan kami proses pinjaman / pengadaan adalah yang terbaik yang pernah Anda dapat mendapatkan.
    Kami menawarkan setiap jumlah pinjaman dan untuk alasan yang masuk akal.
    Hubungi kami hari ini untuk pinjaman Anda melalui,
    Email: dubrilloanfirm@gmail.com
    Skype: dubrilloanfirm

    ReplyDelete