Saturday, May 10, 2014

Bisa Jadi, Mereka Lebih Pintar Soal Sabar dan Ikhlas


Bisa Jadi, Mereka Lebih Pintar Soal Sabar dan Ikhlas
            Tepat pada tanggal 8 Mei 2014 saya bersama dua orang teman saya mengunjungi sebuah panti asuhan yatim piatu di daerah Pelni, Depok. Namanya ‘Yayasan Bina Remaja Mandiri’. Awalnya, saya mengira yayasan ini adalah yayasan yang besar dengan bangunan yang luas. Namun, sesampainya disana, saya sedikit terkejut karena ternyata bangunan yayasan ini tidak besar dan sangat sederhana. Kami disambut oleh Ibu Ferlia, seorang wanita berumur 30 tahun yang mendirikan yayasan ini sejak beliau berumur 22 tahun. Mungkin banyak diantara kita, ketika mencapai usia 22 tahun masih berkecimpung dengan lembar kerja tugas, rentetan jadwal ujian, atau bahkan berbaris-baris daftar impian yang ingin dicapai satu sampai lima tahun mendatang. Saya tidak bilang semua itu jelek. Tugas, ujian, deadline, rencana impian dan pencapaian….semua itu memang wajib kita susun dan kerjakan. Tapi ada banyak orang yang berbeda di antara kita. Yang tidak hanya mengerjakan kewajibannya sebagai pembelajar, tetapi juga melaksanakan kewajibannya sebagai pengabdi negara. Salah satunya adalah Ibu Ferlia ini. Seorang Ibu yang ingin mengabdi untuk negara dan agamanya. Seorang Ibu yang ingin meringankan beban dan kewajiban negara untuk membantu fakir miskin dan anak-anak terlantar seperti  yang tertuang dalam Undang-Undang Dasar Negara’45 pasal 34 ayat 1.
Sekitar tahun 2007, Ibu Ferlia telah memberanikan diri untuk mendirikan sebuah yayasan dan menghidupi anak yatim dan anak piatu. Pada saat pertama kali didirikan, yayasan ini memiliki sepuluh anak asuhan remaja perempuan dan bertempat di Jakarta. Sepuluh anak remaja ini berasal dari keluarga golongan ekonomi rendah dan orang tua mereka adalah single parent (memiliki ibu saja atau bapak saja). Karena satu dan lain hal, akhirnya Ibu Ferlia pindah ke Depok bersama keluarga dan anak-anak asuhnya.
         Beberapa tahun setelah tinggal di Depok, anak asuh di yayasan ini semakin bertambah. Hal ini dikarenakan Dinas Sosial Kota Depok dan Kepolisian Kota Depok menitipkan beberapa bayi yang terlantar atau dibuang oleh orang tuanya. Karena banyaknya balita yang dititipkan pada yayasan ini, akhirnya ibu Ferlia membagi yayasan ini menjadi dua, yaitu Yayasan Bina Remaja Mandiri dan Yayasan Bina Balita Ceria. Kedua yayasan ini memiliki tempat yang berbeda meski dalam satu kawasan. Yayasan Bina Balita Ceria merupakan tempat untuk para balita dan remaja putri. Sedangkan Yayasan Bina Remaja Mandiri merupakan tempat untuk anak-anak di atas lima tahun dan remaja laki-laki. Kini yayasan ini memiliki 35 anak asuhan. Tujuh diantaranya tidak tinggal di panti karena masih memiliki bapak atau ibu. Namun, karena ibu atau bapaknya tidak mampu mencukupi kebutuhan anak-anaknya, ibu Ferlia memutuskan untuk membiayai kebutuhan sehari-hari dan pendidikan anak-anak tersebut.
           Selalu ada cerita di balik wajah mungil dan keceriaan balita-balita di yayasan ini. Pada saat kami berkunjung, para balita di yayasan ini sedang terlelap dalam tidur siangnya. Namun, ada beberapa adik yang sudah terbangun dan akhirnya bermain bersama kami. Sulis, seorang anak berusia tiga tahun. Saat pertama kali bertemu dengan kami, ia terlihat malu-malu, tidak ingin berjabat tangan, namun dengan seksama menatap dan memperhatikan aktivitas kami. Lambat laun, ia mulai mau berbicara dan memperkenalkan dirinya kepada kami. Sulis ini sudah tidak memiliki ibu. Ia tak sempat merasakan hangatnya dekapan seorang ibu. Sebelum berada di yayasan ini, ia selalu berada di rumahnya…… sendirian. Bapak Sulis seringkali meninggalkan Sulis sendirian di rumah, bahkan ketika Sulis berumur kurang dari tiga. Hal ini disebabkan Bapak Sulis harus bekerja kesana kemari, pagi sampai malam. Saat ditemukan oleh ibu Ferlia, anak ini terlihat kotor sekali dan sama sekali tidak terurus. Ibu Ferlia akhirnya memohon izin kepada Bapak Sulis untuk merawat Sulis di Yayasan Bina Balita. Setelah bapak Sulis menyetujui, ibu Ferlia membawa Sulis ke yayasan, merawatnya, dan mengajarkan ia banyak hal. Hari-hari pertama Sulis tinggal di yayasan, ia sering kali buang air besar sembarangan karena tidak pernah mendapatkan toilet training dari orang tuanya. Ketika hendak makan, ia tidak pernah cuci tangan meski tangannya begitu kotor. Karakter Sulis pun masih kurang baik. Ibu Ferlia mendidik, merawat, dan membimbing Sulis sampai akhirnya kini Sulis sudah tidak kotor lagi, bisa kencing dan buang air besar sendiri di toilet, makannya bersih dan teratur.



Ada lagi Raihan. Seorang anak berusia lima tahun. Meski usianya sudah lima tahun, namun ia belum mampu berjalan seperti anak-anak seusianya. Kakinya mengalami paralisis, ia susah berbicara, dan terkadang tidak mampu berespon karena ada gangguan sistem saraf pusat. Wajah Raihan begitu lugu dan tampan. Saya tahu, ia ingin bicara banyak hal. Ia ingin mengekspresikan kebahagiaannya. Ia ingin menunjukkan keceriaannya. Namun, ia sangat sulit mengungkapkannya karena susah bicara dan bergerak bebas layaknya anak-anak pada umumnya. Ibu Raihan mengalami depresi berat sehingga Raihan diserahkan pada panti yang bisa mengurusnya. Saya tidak melihat raut muka sedih pada Raihan meski ia hidup dalam keterbatasan dan kepiluan. Maka, menjadi hal yang menyedihkan sekali jika kita-yang memiliki orang tua lengkap dan fisik yang sempurna-selalu mengeluh dan tidak bersyukur.

Kisah lain datang dari seorang bayi berusia delapan bulan bernama Rivaldi. Rivaldi sudah tinggal di yayasan ini sejak ia berusia satu bulan. Bapak Rivaldi telah tiada. Sedangkan ibu dan nenek Rivaldi terjerat hukuman penjara selama beberapa tahun karena terlibat dalam tindak kriminal. Wajah Rivaldi yang begitu polos dan badannya yang berisi membuat saya dan dua teman saya betah berlama-lama di panti ini. Rivaldi adalah bayi yang begitu aktif, tak bisa diam, dan jarang menangis. Saya pikir, setiap orang yang bertemu Rivaldi pasti akan jatuh cinta karena tingkah lakunya.

Mungkin masih banyak cerita di balik anak-anak mungil di yayasan ini yang serupa atau lebih parah dari ketiga anak yang saya sebutkan sebelumnya. Kami memang masih belum menelusuri kisah di balik balita-balita mungil itu, tapi hati saya rasanya terhantam. Mereka, yang kisahnya memilukan, tidak pernah menangis menjerit-jerit menyesali takdirnya. Mereka yang tak seberuntung kita, yang belum sempat merasakan belaian tangan ibu, tidak pernah menuntut banyak kepada Tuhan. Terbukti, bahwa anak-anak memang lebih pintar soal ikhlas dan sabar dibandingkan kita yang telah dewasa.
Kedua rumah yang ditempati oleh yayasan ini adalah rumah kontrakan yang setiap tahunnya harus membayar Rp. 12.000.000, 00 per rumah. Anak-anak di yayasan ini bisa saja tersingkir jika sang pemilik rumah enggan memperpanjang masa kontrak. Biaya pengeluaran dan operasional kedua yayasan ini cukup besar, mulai dari gaji pengasuh, kebutuhan susu, makanan sehari-hari, peralatan mandi dan biaya perawatan, biaya pendidikan, dan biaya-biaya tak terduga lainnya. Ibu Ferlia menutup dana pengeluaran tersebut dengan gajinya dan gaji suaminya, CSR perusahaan indosat, dan bantuan pemerintah. Namun, hal yang perlu diketahui bahwa gaji ibu Ferlia dan suami menutupi sekitar 50% pengeluaran, CSR perusahaan indosat menutupi sekitar 25% pengeluaran, dan bantuan dari pemerintah hanya sedikit memberikan kontribusi. Pemerintah hanya memberikan biaya Rp. 800.000/tahun/anak. Sedangkan kebutuhan hidup dan pendidikan anak per tahun jauh dari angka tersebut. Yayasan ini juga bergantung pada donatur untuk menutupi seluruh pengeluarannya.
Tahun ini, bantuan CSR perusahan Indosat sudah berakhir dan saat ini yayasan sedang dalam usaha untuk perpanjangan kontrak. Kita semua doakan ya agar Indosat mau memperpanjang kontraknya. Namun, dalam pikiran saya terlintas bahwa kita sebetulnya juga bisa memberikan kontribusi untuk yayasan ini. Apa itu?
Rumah. Rumah adalah salah satu mimpi besar Ibu Ferlia. Karena jika mereka memiliki rumah tetap sendiri, hal itu bisa memangkas pengeluaran dan memberikan jaminan tempat tinggal bagi seluruh warga panti. Saya yakin, kita semua bisa bekerjasama dan berkolaborasi untuk mewujudkan mimpi Ibu Ferlia dan anak-anak panti. Saya butuh bantuan dan kolaborasi teman-teman semua untuk mewujudkan mimpi Ibu Ferlia dan anak-anak Yayasan Bina Balita Ceria. Jika teman-teman ingin berkontribusi, saya dengan senang hati akan menyambut! J




8 comments:

  1. Boleh tau alamat lengkap pantinya mba? Atau adakah no telp yg bs dihub?

    ReplyDelete
  2. Mb boleh tahu alamatnya ? Saya sudah cari di jalan brantas tapi tidak ada.

    ReplyDelete
  3. Kalau bisa minta kontak personnya deh mb, patokannya apa? Apakah sudah pindah lagi ? Thanks sebelumnya

    ReplyDelete
  4. Kami di Dubril Badan Loan menawarkan pinjaman aman dan tidak aman untuk individu, pembentukan pribadi dan umum.
    tingkat bunga kami adalah pada tingkat yang terjangkau dari 2% dan kami proses pinjaman / pengadaan adalah yang terbaik yang pernah Anda dapat mendapatkan.
    Kami menawarkan setiap jumlah pinjaman dan untuk alasan yang masuk akal.
    Hubungi kami hari ini untuk pinjaman Anda melalui,
    Email: dubrilloanfirm@gmail.com
    Skype: dubrilloanfirm

    ReplyDelete
  5. Hallo mba.. Salam kenal. Boleh saya tau alamat yayasan bina balita ceria? Atau nomor telepon yang bisa dihubungi??
    Terima kasih

    ReplyDelete
  6. Hallo mba.. Salam kenal. Boleh saya tau alamat yayasan bina balita ceria? Atau nomor telepon yang bisa dihubungi??
    Terima kasih

    ReplyDelete
  7. Assalamualaikum salam kenal , saya boleh minta alamat terbaru yayasan bina balita ceria dan no telphone yg bisa di hubungi. Terima kasih

    ReplyDelete
  8. Assalamualaikum salam kenal , saya boleh minta alamat terbaru yayasan bina balita ceria dan no telphone yg bisa di hubungi. Terima kasih

    ReplyDelete