Praktik Keperawatan sebagai Inovasi
Bisnis Sosial di Bidang Kesehatan
Faiqa
Himma Emalia
Fakultas Ilmu Keperawatan
Universitas Indonesia
Pendahuluan
Peradaban terus bergulir, ilmu
pengetahuan dan teknologi pun tidak berhenti berkembang. Namun, usaha peningkatan
kesejahteraan rakyat Indonesia masih belum menunjukkan hasil yang signifikan. Berbagai
masalah sosial, pendidikan, ekonomi, dan kesehatan tak kunjung terselesaikan
dan justru semakin mengakar. Kemiskinan di Indonesia hingga kini menjadi
persoalan utama yang belum terselesaikan.
Berdasarkan
data Badan Pusat Statistik, indeks kedalaman kemiskinan pada bulan Maret 2013
mencapai 1,75 dan mengalami kenaikan menjadi 1,89 pada bulan September 2013.1
Angka tersebut menggambarkan kondisi kemiskinan Indonesia yang
memprihatinkan dan berdampak negatif terhadap aspek lain, seperti kesehatan
yang tidak terpelihara, akses pendidikan yang semakin sempit, dan kemunculan
stigma sosial. Tentunya, hal ini tidak hanya menjadi tanggung jawab
konstitusional pemerintah, tetapi juga tanggung jawab moral bagi pihak swasta
dan warga negara Indonesia. Seluruh elemen perlu berkontribusi dan
berkolaborasi nyata untuk pencapaian kesejahteraan bangsa.
Salah satu kontribusi yang dapat
dilakukan oleh swasta dan warga negara Indonesia adalah menciptakan bisnis
sosial, yakni inovasi sosial yang menyatupadukan praktik bisnis (entrepreneurship) dengan kegiatan atau
misi sosial. Bisnis sosial dapat dibentuk oleh siapapun, termasuk tenaga
kesehatan dan pemuda. Tenaga kesehatan profesional maupun mahasiswa bidang
kesehatan, termasuk mahasiswa Ilmu Keperawatan memiliki andil untuk membangun
bisnis sosial sebagai solusi untuk mengurangi angka kemiskinan sekaligus
meningkatkan status kesehatan masyarakat. Esai ini membahas tentang konsep bisnis
sosial, peran dan dampak bisnis sosial di bidang kesehatan, serta pelayanan
keperawatan yang dapat dieksplorasi dan dikembangkan untuk menjadi sebuah
bisnis sosial.
Bisnis
Sosial sebagai Inovasi Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat
Definisi
bisnis sosial masih diperdebatkan oleh berbagai ilmuwan dan institusi.
Pengertiannya sangat bervariasi dan tidak ada definisi yang absolut. Menurut
Mair & Marti (2006), professor dan akademisi IESE Business School, mendefinisikan bisnis sosial sebagai proses
yang melibatkan inovasi dan perpaduan sumber daya sebagai katalisator perubahan
sosial dan pemenuhan kebutuhan sosial.2 Austin, et al. (2006) menyebutkan
bahwa bisnis sosial adalah sebuah pemikiran dan sikap yang menggunakan bisnis
untuk kepentingan profit maupun non profit, sektor publik atau lintas sektor, seperti
kolaborasi organisasi yang menggunakan perpaduan antara pendekatan profit dan
non profit.3 Pengertian-pengertian tersebut mengandung pemahaman
bahwa bisnis sosial merupakan praktik yang memadukan konsep dan usaha bisnis
dengan misi sosial, dimana pelakunya memanfaatkan kemampuan entrepreneurship untuk mengatasi
masalah-masalah sosial, ekonomi, pendidikan, dan kesehatan.
Perbedaan
bisnis sosial dengan bisnis kapitalis maupun organisasi sosial terletak pada
kombinasi tiga aspek, yaitu sektor privat, sektor publik, dan kerelawanan.
Pertama, komponen sektor privat dalam bisnis sosial dimaksudkan pada pencapaian
keuntungan yang ditujukan untuk kepentingan perkembangan perusahaan. Kedua,
komponen sektor publik dalam bisnis sosial merupakan pemanfaatan sumber daya
manusia dan sumber daya alam untuk diberdayakan dalam operasional bisnis.
Ketiga, komponen kerelawanan pada bisnis sosial dimaknai sebagai usaha sukarela
yang ditujukan pada peningkatan kesejahteraan dan pengembangan masyarakat dari
berbagai aspek.
Adanya
kombinasi tiga aspek dalam bisnis sosial mendiferensiasikan bisnis sosial
dengan perusahaan komersial ataupun dengan lembaga-lembaga sosial seperti
yayasan, lembaga amal, dan lembaga lainnya yang bersifat sukarela. Bisnis
sosial tidak berorientasi pada perolehan profit setinggi-tingginya seperti
perusahaan kapitalis. Namun, bisnis sosial juga tidak menggantungkan siklus kehidupannya pada
donatur atau bantuan pemerintah seperti lembaga sosial.
Salah
satu contoh dari eksistensi bisnis sosial adalah perusahaan Grameen Bank,
didirikan oleh Muhammad Yunus, yang telah berhasil membangkitkan perekonomian
empat juta wanita miskin di Bangladesh melalui usaha kredit mikro. Dalam
perjalanannya, Grameen Bank berkembang pesat membawahi delapan lembaga profit
dan non-profit yang mendorong peningkatan derajat masyarakat miskin. Pada tahun
2005, divisi perbankannya mencatat keuntungan sebesar 15,21 juta US dolar.
Prestasi tersebut mengantarkan Muhammad Yunus dan Grameen Bank sebagai peraih
pengharagaan Nobel Perdamaian Dunia pada tahun 2006.4
Peluang
Bisnis Sosial di Bidang Kesehatan
Seiring dengan berkembangnya istilah
bisnis sosial di berbagai negara, termasuk di Indonesia, tidak sedikit para
pengusaha yang mengubah bisnis konvensionalnya menjadi bisnis sosial. Para
pemuda dari berbagai kalangan pun turut serta dalam mengembangkan bisnis sosial
di Indonesia. Sayangnya, sampai saat ini bisnis sosial di Indonesia didominasi oleh
bisnis sosial yang hanya berfokus pada penurunan angka kemiskinan. Masih jarang
ditemukan bisnis sosial di Indonesia yang memberikan manfaat tambahan, seperti
manfaat di sektor kesehatan. Padahal, bisnis sosial dapat mengatasi atau
setidaknya meminimalisasi masalah-masalah kesehatan yang memerlukan solusi
kuratif, preventif, ataupun promotif.
Pelayanan kesehatan yang bersifat
kuratif mungkin kini lebih mudah diakses Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR)
dengan diberlakukannya program jaminan kesehatan oleh Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial (BPJS) tahun ini. Sedangkan, pelayanan kesehatan preventif dan
promotif masih belum terakses secara luas dan gerakannya masih tersendat berbagai
kendala. Misalnya perawat puskesmas tidak mampu menjalankan program kesehatan
komunitas secara maksimal karena keterbatasan dana, berbagai institusi
kesehatan yang tidak mengoperasikan kegiatannya karena bergantung pada donatur
dan bantuan pemerintah, dan kendala-kendala lainnya. Masalah-masalah tersebut dapat
diatasi melalui praktik bisnis sosial.
Bedasarkan konsep Muhammad Yunus (2010),
pendiri Grameen Bank, suatu bisnis sosial dapat dibentuk dengan memetakan
proposisi nilai, konstelasi nilai, dan persamaan profit.5 Begitu
pula dengan bisnis sosial dalam bidang kesehatan. Proposisi nilai memuat
pertanyaan-pertanyaan tentang apa produk atau layanan yang akan ditawarkan dan siapa
pelanggan atau target pemasarannya. Proposisi nilai ini akan saling berkaitan
dengan konstelasi nilai yang mengungkit strategi tentang bagaimana cara
menawarkan produk atau pelayanan kepada pelanggan, siapa saja mitra yang
terlibat, dan siapa supplier yang
dapat digunakan. Sedangkan persamaan profit merupakan hubungan dari proposisi
nilai dan konstelasi nilai yang menghasilkan elaborasi tentang profit yang
diperoleh perusahaan, alokasi dana untuk gaji tenaga kerja, dan biaya produksi
yang keluar. Konsep ini dapat membantu tenaga kesehatan profesional dan mahasiswa
bidang kesehatan untuk membentuk sebuah bisnis sosial di bidang kesehatan.
Strategi bisnis sosial di bidang
kesehatan dapat bervariasi sesuai dengan pelayanan dan produk spesifik yang
ditawarkan. Contohnya, pelaku bisnis sosial di bidang kesehatan dapat memanfaatkan
profit dari usaha non-kesehatan sebagai sumber dana pelayanan kesehatan
masyarakat marjinal. Strategi lainnya, pelaku bisnis sosial dapat menjalankan
pelayanan atau produk kesehatan berkualitas dengan menekan biaya operasional
produksi sehingga harga yang ditawarkan dapat dijangkau oleh seluruh lapisan
masyarakat, terutama MBR.
Melalui bisnis sosial di bidang
kesehatan, masyarakat dapat mengakses pelayanan kesehatan holistik, baik berupa
pelayanan preventif, kuratif, maupun promotif, dengan cuma-cuma atau dengan
harga terjangkau. Inti dari praktik ini adalah menggunakan konsep ekonomi
kesehatan untuk menghasilkan sumber dana dalam memberikan pelayanan kesehatan
komunitas. Selain itu, bisnis sosial memungkinkan institusi pemberi layanan
kesehatan untuk bertahan, berkembang, dan berkelanjutan karena tidak bergantung
pada aliran dana dari donatur ataupun pemerintah.
Beberapa kegiatan bisnis sosial telah
terbentuk baik di Indonesia, maupun di luar negeri. Contohnya, sekolah
keperawatan yang didirikan oleh Florence Nightingale, pada tahun 1860 di London,
Inggris untuk membentuk perawat profesional yang memperhatikan aspek keamanan
dan hygiene.6 Kolaborasi antara
Grameen dan Danone yang menciptakan produk yoghurt bernutrisi tinggi dengan
harga terjangkau untuk mengatasi masalah malnutrisi anak-anak di Bangladesh
pada tahun 2005.7
Sedangkan, contoh bisnis sosial
kesehatan di Indonesia antara lain bisnis Gamal Albinsaid, seorang dokter muda
dari Universitas Brawijaya, berhasil mendapatkan berbagai penghargaan atas
kontribusinya menciptakan sebuah Klinik Asuransi Sampah. Klinik tersebut
memberikan pelayanan preventif, promotif, kuratif, dan rehabilitatif kepada
masyarakat. Masyarakat hanya cukup membayar pelayanan kesehatan tersebut dengan
sampah. Sampah yang terkumpul dari masyarakat akan diolah untuk menghasilkan
profit yang digunakan untuk menutupi biaya produksi. Melalui Klinik Asuransi Sampah,
sekitar 500 warga Malang dapat mengakses pelayanan kesehatan primer hanya dengan
menyerahkan sampah kering.8 Ini merupakan bukti nyata bahwa bisnis
sosial di bidang kesehatan dapat berkontribusi terhadap pembangunan kesehatan
dan peningkatan kesejahteraan bangsa Indonesia.
Praktik Keperawatan
sebagai Inovasi Bisnis Sosial di Bidang Kesehatan
Praktik keperawatan adalah salah satu
lahan yang strategis untuk bertransformasi menjadi bisnis sosial di bidang
kesehatan. Pelayanan keperawatan seperti perawatan paliatif hospice care, pelayanan perawatan luka
diabetes, nursing home untuk pasien lanjut
usia, dan berbagai perawatan komplementer yang tersertifikasi merupakan
contoh-contoh pelayanan keperawatan yang dapat dijadikan sebagai bisnis sosial.
Para tenaga keperawatan profesional dan mahasiswa keperawatan dapat
berkolaborasi untuk menyediakan pelayanan keperawatan berkualitas yang dapat
dijangkau berbagai kalangan.
Contoh strategi yang dapat digunakan
adalah pemberi layanan keperawatan menyediakan pelayanan untuk masyarakat
golongan ekonomi menengah ke atas dengan orientasi profit optimal. Hasil dari
profit tersebut digunakan untuk mengganti biaya produksi dan menjalankan
program kesehatan bersifat preventif, promotif, dan rehabilitatif kepada
masyarakat golongan bawah secara cuma-cuma atau harga yang rendah. Melalui
siklus ini, pelayanan keperawatan yang berkualitas dapat dinikmati oleh
masyarakat golongan menengah ke atas, juga dapat diakses oleh masyarakat
golongan bawah.
Bisnis sosial di bidang keperawatan
dapat berkontribusi besar dalam mengatasi masalah kesehatan masyarakat
Indonesia, seperti masalah tingginya angka hipertensi di Indonesia. Menurut Riset
Kesehatan Dasar, 2013, prevalensi penderita hipertensi di Indonesia cukup
tinggi yaitu sebesar 25,8%.9 Sebagian besar penderita belum
teredukasi mengenai hipertensi dan tidak menyadari bahwa dirinya telah
mengalami hipertensi10. Hipertensi yang tidak mendapatkan penanganan
lebih lanjut beresiko besar terhadap kerusakan organ lain seperti organ ginjal,
jantung, dan otak.
Pada persoalan hipertensi misalnya,
perawat memiliki peran untuk memberikan perawatan preventif, promotif, dan
rehabilitatif melalui pengontrolan tekanan darah, pendidikan kesehatan, dan
konsultan gaya hidup klien. Perawatan ini dapat dikemas menjadi sebuah bisnis
sosial yang menyediakan pelayanan berupa pemeriksaan dan konsultasi kesehatan.
Tim perawat dapat mengambil profit optimal bagi klien golongan ekonomi menengah
ke atas dan memberikan potongan harga kepada masyarakat golongan ekonomi bawah.
Dampak dari bisnis sosial sederhana tersebut bersifat divergen karena mencakup
semua golongan dan berpengaruh terhadap berbagai aspek.
Pada kenyataannya bisnis sosial dengan
menggunakan praktik keperawatan belum berkembang karena menghadapi berbagai
tantangan. Tantangan-tantangan yang muncul antara lain sebagian besar tenaga
keperawatan profesional dan mahasiswa keperawatan belum mengenal bisnis sosial
secara mendalam, belum terbentuknya kemampuan entrepreneurship di kalangan perawat, stigma negatif masyarakat
terhadap praktik keperawatan mandiri, dan lemahnya perlindungan hukum bagi
perawat.
Tantangan-tantangan tersebut dapat
diatasi dengan peran para tokoh keperawatan dalam lembaga Persatuan Perawat
Nasional Indonesia (PPNI), pendidik dan ilmuwan, praktisi keperawatan, serta
mahasiswa keperawatan. Para tokoh keperawatan dapat berperan dalam mengadvokasi
dan mendukung para perawat untuk menciptakan bisnis sosial. Advokasi dan
dukungan yang diberikan dapat berupa pencarian investor, sertifikasi praktik
keperawatan mandiri yang tidak rumit, dan pelatihan sumber daya manusia. Tenaga
pendidik dapat mengambil peran sebagai pengembang dan peneliti praktik
keperawatan, serta sebagai pembimbing mahasiswa untuk menjalankan bisnis
sosial. Praktisi dan mahasiswa keperawatan dapat berkontribusi sebagai inisiator
dan eksekutor bisnis sosial, serta pengembang iklim bisnis sosial di bidang
kesehatan. Kolaborasi dari berbagai elemen akan menghasilkan praktik bisnis
sosial yang produktif dan memberikan solusi jangka panjang terhadap
masalah-masalah kesehatan masyarakat.
Kesimpulan
Masalah kemiskinan yang terjadi di
Indonesia dapat memberikan dampak negatif terhadap aspek lain, termasuk aspek
kesehatan. Masalah tersebut perlu ditangani oleh seluruh komponen bangsa, baik
pemerintah, swasta, maupun warga negara. Oleh karena itu, diperlukan solusi
alternatif yang dapat dilakukan oleh semua pihak, yaitu bisnis sosial.
Bisnis sosial di bidang kesehatan
ternyata mampu memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan kesejahteraan
bangsa Indonesia. Masalah-masalah kesehatan masyarakat dapat ditekan melalui
eksistensi dari bisnis sosial. Praktik keperawatan merupakan lahan yang
strategis untuk mengembangkan bisnis sosial di bidang kesehatan. Tentunya, praktik
ini perlu mendapat perhatian dan dukungan berbagai pihak, termasuk para tokoh
keperawatan, pendidik, tenaga profesional, dan mahasiswa. Apabila seluruh
elemen ini berkolaborasi bukan tidak mungkin bisnis sosial di bidang
keperawatan menjadi kontributor terbesar dalam peningkatan pembangunan
kesehatan Indonesia.
Referensi
1Badan
Pusat Statistik. (2013), Jumlah dan
Presentase Penduduk Miskin, Garis Kemiskinan, Indeks Kedalaman Kemiskinan, dan
Indeks Keparahan Kemiskinan Menurut Provinsi, diakses dari http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&id_subyek=23¬ab=1,
pada tanggal 9 Maret 2014 pukul 18:42
2Muhammad
Yunus. (2010), Bertrand Moingeon dan Laurence Lehmann-Ortega, Building Social Business Models: Lessons
from the Grameen Experience, Long Range Planning, 43, Elsevier Ltd, London,
England, hlm 4.
3Giulia
Galera & Carlo Borzaga. (2009), Social
Enterprise: An International Overview of Its Conceptual Evolution and Legal
Implementation, Social Enterprise Journal, 5:3, Emerald Group Publishing Limited, Bingley, England, hlm 2
4Portal
Online Suara Merdeka, Kisah Pemotongan
Lingkaran Kemiskinan, diakses dari http://m.suaramerdeka.com/index.php/read/entertainmen/2007/06/04/354,
pada tanggal 9 Maret 2014 pukul 18.38
5Muhammad
Yunus, op.cit. hlm 5
6BBC.,
Florence Nightingale (1820-1910), http://www.bbc.co.uk/history/historic_figures/nightingale_florence.shtml.
diakses tanggal 10 Maret 2014 pukul 09.17
7Grameen
Danone Ltd, The Project’s History,
diakses dari http://www.danonecommunities.com/en/project/grameen-danone-foods-ltd,
pada tanggal 10 Maret 2014 pukul 9.22
8Portal
Online Kompas. Cerita Anggota Klinik
Asuransi Sampah, diakses dari http://regional.kompas.com/read/2014/01/19/1536004/Cerita.Anggota.Klinik.Asuransi.Sampah,
pada tanggal 8 Maret 2014 pukul 22:21
9Kementrian
Kesehatan. (2013), Riset Kesehatan Dasar
tahun 2013, diakses dari http://depkes.go.id/downloads/riskesdas2013/Hasil%20Riskesdas%202013.pdf,
pada tanggal 11 Maret 2014 pukul 22:48
10Portal
Online Metro TV News, Hipertensi Tantangan
Terbesar Dokter Indonesia, diakses dari http://showbiz.metrotvnews.com/read/2014/03/07/216727/hipertensi-tantangan-besar-dokter-indonesia#.UxxKAz-Jckp,
pada tanggal 9 Maret 2014 pukul 18:38
Kami di Dubril Badan Loan menawarkan pinjaman aman dan tidak aman untuk individu, pembentukan pribadi dan umum.
ReplyDeletetingkat bunga kami adalah pada tingkat yang terjangkau dari 2% dan kami proses pinjaman / pengadaan adalah yang terbaik yang pernah Anda dapat mendapatkan.
Kami menawarkan setiap jumlah pinjaman dan untuk alasan yang masuk akal.
Hubungi kami hari ini untuk pinjaman Anda melalui,
Email: dubrilloanfirm@gmail.com
Skype: dubrilloanfirm