Pertama
kali saya melihat cover dari buku ini, saya tertarik dengan judulnya. ‘Lead by
Heart’ yang diciptakan oleh Astra International, salah satu perusahaan terbesar
dan ternama di Indonesia. Buku ini menceritakan tentang gaya kepemimpinan dan perjalanan
Michael Dharmawan Ruslim dalam mengelola PT Astra International Tbk.
Michael D. Ruslim merupakan mantan
CEO Astra International yang berhasil menumbuhkan bisnis dalam tubuh Astra
sehingga Astra dapat berjaya dan bertahan sampai sekarang. Keberhasilan ini
tidak lepas dari gaya kepemimpinan dan attitudenya
yang akhirnya dapat mengubah mindset dan cara kerja keluarga Astra. Saya secara
personal mengakui bahwa buku ini sangat layak untuk dibaca oleh khalayak,
khususnya para pemuda yang memiliki passion
dalam mengembangkan leadership skillnya.
Dalam buku ini, kita dapat meneladani dan belajar bagaimana Michael menavigasi
perjalanan Astra dengan gaya kepemimpinannya sehingga Astra dapat keluar dari
krisis dan berjaya setelah krisis usai.
Seperti yang disinggung sebelumnya bahwa Astra merupakan
perusahaan besar di Indonesia. Karena kemampanan peranti manajeman dan
fasilitas yang kaya serta variatif, Astra telah lama menjadi best practices di Indonesia. Bahkan
kelompok usaha ini telah memiliki aset atau kapital di berbagai aspek, mulai
dari financial, human, social, dan technology yang mendukung pertumbuhan
dalam badan usaha ini. Astra sendiri memiliki prinsip Catur Dharma sebagai
fondasi dalam menjalankan perjalanan bisnisnya. Catur Dharma tersebut antara
lain: 1. Menjadi milik yang bermanfaat bagi bangsa dan negara; 2. Memberikan
pelayanan terbaik kepada pelanggan; 3. Menghargai individu dan membina kerja
sama; 4. Senantiasa berusaha mencapai yang terbaik. Seperti pancasila untuk
negara Indonesia, Catur Dharma ini merupakan sebuah landasan yang selalu
dipegang oleh Astra untuk mencapai tujuan-tujuannya. Terbukti, Catur Dharma ini
berhasil mengawali Astra sebagai perusahaan terbesar di Indonesia yang
memberikan sumbangsih terhadap kemajuan negara.
Namun, perjalanan Astra menjadi perusahaan besar di
Indonesia yang memiliki profit triliunan rupiah ini ternyata tidak mulus begitu
saja. Pada tahun 1998, Astra sempat mengalami krisis karena kondisi ekonomi
Indonesia yang pada saat itu memburuk. Pada saat itu, Astra mencapai kerugian
7,4 triliun rupiah dan harga sahamnya menurun drastis dari Rp. 4.000,00 menjadi
Rp. 225, 00. Namun, berkat manajemen yang baik, Astra dapat bertahan melawan
gelombang krisis sehingga Astra dapat melunasi seluruh kewajibannya pada
kreditor pada tahun 2004. Pada tahun 2008, ketika krisis melanda Amerika dan
wilayah Eropa, Astra tetap tegak dan tidak terlalu goyah karena fondasinya kini
semakin kuat dan mengakar. Prestasi dan performanya semakin meningkat.
Di balik suksesnya Astra, ternyata terdapat seorang
pemimpin-pemimpin yang menahkodai perjalanan Astra. Salah satunya adalah
Michael Dharmawan Ruslim atau sering dipanggil Pak Mike atau Pak Michael. Orang
yang pernah menduduki posisi nomer satu di Astra ini dikenal dengan orang yang humble, low profile, pemalu, penyayang,
lembut hatinya, namun tetap tegas, professional, dan memiliki intelektualitas
yang sangat tinggi. Michael yang merupakan lulusan Universitas Barkeley,
Amerika Serikat pada awalnya tidak mau menjadi CEO Astra. Alasannya, ia tidak
mau jadi artis atau sorotan publik. Begitu pemalunya beliau sehingga beliau
lebih suka bekerja di balik layar dan tidak mengembor-gemborkan (show off) kerja keras dan prestasinya.
Bagi beliau, The most important thing is
achievement, not position. Dimanapun posisi beliau, beliau selalu
menunjukkan profesionalisme dan membuahkan prestasi-prestasi gemilang. Prestasi
tersebut antara lain kesuksesannya dalam membangun dan memperkuat Divisi Jasa
Keuangan dan Divisi Infrastruktur sebelum Michael menjadi CEO. Bahkan, saat beliau
menjadi CEO pun, beliau berhasil mendapatkan berbagai prestasi dari berbagai
institusi. Apabila ditanya soal prestasi yang berhasil beliau raih, beliau
selalu mengatakan bahwa semua itu adalah kerja tim, bukan semata kerjanya
seorang.
Seorang
pemimpin tidak lepas dengan kata-kata ‘Creator’
dan ‘Builder’. Karena sejatinya,
pemimpin harus memiliki kekuatan untuk menciptakan karya, dan kemudian
membangun dan mempertahankan karya tersebut. Creator dan Builder
sangat erat kaitannya dengan seorang konseptor yang memiliki imajinasi dan
intensi untuk bisa diimplementasikan menjadi kenyataan. Imajinasi dan intensi
inilah yang menjadi sebuah ‘kompas’ bagi pemimpin untuk menggerakkan anggota
dan organisasinya. Michael pun bertindak demikian. Menjadi seorang konseptor
yang mengimplementasikan apa yang menjadi imajinasi dan intensinya.
Dalam menjalankan roda kepemimpinannya, Michael dikenal
sebagai orang yang decisive. Berani
mengambil keputusan, dengan terlebih dahulu memperhitungkan resikonya. Michael
lebih berempati kepada eorang yang berani mengambil keputusan, tetapi gagal
daripada orang yang selalu menghindari masalah dan takut mengambil keputusan.
Oleh karena itu, Michael selalu mendorong anak buahnya untuk bersikap desicive, berani mengambil keputusan
dengan memperhitungkan resiko. Beliau percaya, masalah tidak akan selesai jika
terus dihindari. Walaupun ternyata keputusan yang dibuat berbuah kegagalan, toh
kegagalan masih bisa dianalisis penyebabnya dan dijadikan pembelajaran. Hal
yang terpenting adalah kita telah melakukan yang terbaik, masalah hasil ‘it’s a gut feeling’. Poin ini yang
selalu dikemukakan dan ditekankan Michael untuk mendorong para anggotanya agar
bersikap desicive.
Sebagai seorang pemimpin, Michael juga menjalankan
tugasnya sebagai ‘coach’ dan ‘communicator’. Kedua tugas ini merupakan
tugas penting bagi seorang pemimpin karena pemimpin harus dapat berkomunikasi
dengan para anggotanya sekaligus memfasilitasi mereka untuk selalu meningkatkan
performa kerja mereka. Tentunya, tugas sebagai coach dan communicator
harus dilakukan dengan efektif dan persisten. Tugas sebagai coach berarti pemimpin bertanggung jawab
untuk melatih para anggotanya agar level kompetensinya dapat menjangkau
imajinasi dan intensi yang telah di ‘create’
oleh pemimpin. Kemudian, sebagai communicator,
pemimpin harus dapat mengkomunikasikan imajinasi dan intense yang ia ‘create’ kepada para anggota timnya
sehingga baik pemimpin maupun para anggotanya memiliki tujuan dan arah yang
sama.
Sejak menjadi bagian dari Astra, Michael sudah dikenal
memiliki dua sikap yang tak pernah lepas dari dirinya. Yang pertama, constancy of purpose. Maksud dari constancy of purpose, Michael selalu
berupaya untuk memperjuangkan sekuat tenaga imajinasi dan intensi yang telah ia
buat. Dengan prinsip ‘all out’ dan ‘winning mentality’, beliau tidak kenal
lelah memperjuangkan apa yang telah ia ‘create’.
Ini terbukti ketika beliau dengan sungguh-sungguh membangun sejumlah perusahaan
joint venture di sektor pembiayaan.
Selain constansy of purpose, Michael
juga memilki sikap consistency in
behavior. Beliau konsisten dalam sikapnya menjadi seorang leader. Sikapnya yang humble, penuh empati, halus, tak lekang
oleh waktu. Michael juga selalu menjalankan tugasnya sebagai coach dan communicator dengan baik.
Michael memang dikenal sebagai orang yang suka menolong
dimana sifatnya ini tidak timbul begitu saja. Hal tersebut dapat dikatakan
sebagai ‘nature’ dan ‘nurture’, dimana nature merupakan sikap penolong yang memang dimiliki Michael sejak
dulu, sedangkan ‘nurture’ merupakan
pengembangan dari sikap nature yang
dilakukannya secara persisten. Nature dan nurture inilah yang kemudian membentuk personal mastery. Inilah yang disebut personal mastery, penguasaan dan
kemampuan pada bidang yang ditekuni. Terkait personal mastery, saya mengambil kutipan Martin Luther King-pemimpin kulit hitam AS-, “Jika seseorang terpanggil menjadi
tukang sapu, maka seharusnya ia menyapu seperti Michaelangelo melukis, seperti
Beethoven menuliskan komposisi musiknya, atau Shakespeare menuliskan puisinya.
Dia seharusnya menyapu begitu baik, sehingga bumi dan surga akan berhenti
sejenak untuk berkata “Di sini telah hidup seorang penyapu jalan yang begitu
hebat, yang melakukan pekerjaannya dengan begitu baik”. Begitu pentingnya personal mastery agar seseorang dapat
melakukan pekerjaannya dengan sebaik-baiknya sehingga ia mampu menciptakan
karya-karya yang luar biasa. Inilah yang diterapkan seorang Michael dalam
melakukan perannya sebagai seorang pemimpin.
Dalam melaksanakan tugasnya menavigasi pasukan Astra,
Michael telah menggunakan Catur Dharma sebagai fondasinya, dan 3W sebagai
strateginya. Apa itu 3W? 3W adalah singkatan dari Winning Concept, Winning System, dan Winning Team. Winning Concept merupakan kumpulan-kumpulan
ide yang membentuk sebuah konsep dimana konsep tersebut memiliki hal yang lebih
unggul dibandingkan konsep yang lain. Winning
Concept berarti konsep yang ditawarkan harus berbeda, tidak sama dengan
konsep lain. Harus baru, segar, dan menawarkan solusi yang lebih baik. Kemudian
Winning System, merupakan sistem yang
digunakan untuk menjalankan Winning
Concept. Sistem ini yang nantinya menemani perjalanan dalam implementasi Winning Concept. Yang terakhir, yang
tidak kalah pentingnya adalah Winning
Team. Winning Team merupakan
orang-orang pilihan yang memang memiliki personal
mastery. Orang-orang yang reliable,
dipercaya bahwa mereka akan melakukan tugas-tugas dengan sebaik-baiknya. Sebab,
Winning Concept dan Winning System hanya akan sia-sia
apabila tidak ditangani oleh orang yang mampu menjalaninya.
Bicara tentang kepemimpinan, memang tidak lepas dengan
sebuah navigasi. Karena pemimpin memang bak seorang nahkoda yang menavigasi
kemana kapalnya akan pergi. John.C.Maxwell merupakan seorang pemikir tentang
kepemimpinan yang telah menginspirasi Michael dalam menavigasi Astra. Dalam bukunya
John.C.Maxwell, menuliskan “Anyone can steer the ship, but it takes a leader to
chart the course”. Artinya, semua orang dapat menyetir sebuah kapal, namun
dibutuhkan seorang pemimpin untuk menavigasi kapal tersebut. Ada 4 elemen dalam
hukum navigasi, elemen pertama penentuan arah. Pemimpin bertugas menentukan
arah kemudi atau arah organisasinya, menetapkan sasaran, tujuan, dan prioritas.
Elemen kedua adalah antisipasi. Seorang pemimpin tidak hanya harus mampu
menentukan arah. Pemimpin juga harus dapat terlebih dahulu mengetahui jalan
yang dituju, memperhitungkan apa saja yang dibutuhkan untuk melakukan
perjalanan, serta mengetahui orang-orang yang dibutuhkan dalam mencapai tujuan.
Elemen ketiga adalah control, dimana
selama melakukan perjalanan, pemimpin harus selalu mengecek seluruh komponen
yang ada, termasuk fisik dan non fisik (emosional) anggotanya. Elemen terakhir
adalah mendengarkan. Seorang pemimpin harus mengetahui kondisi internal dengan
cara mendengarkan para anggotanya. Lingkungan eksternal pun juga harus
diketahui agar pemimpin dapat mengetahui apa yang telah terjadi di luar.
Michael dalam kepemimpinannya menerapkan sistem demokrasi
pemimpin. Mungkin sebagian orang menganggap bahwa demokrasi terpimpin merupakan
konotasi negatif. Namun dalam hal ini, Michael terbilang berhasil menumbuhkan
perusahaan melalui sistem ini. Maksud dari demokrasi terpimpin adalah semua
anggota dipacu untuk berpartisipasi dalam memunculkan ide-ide baru dan
menggerakkan roda Astra. Michael hanya sebagai fasilitator dan pembuat
keputusan terakhir. Contohnya pada saat rapat, pada awalnya Michael mengajak
para anggotanya untuk mengemukakan pendapat dan ide-ide mereka terlebih dahulu.
Baru untuk keputusan akhir, Michael yang memiliki wewenang. Michael orang yang
open-minded dan tidak malu untuk mengakui ketidakpahamannya terhadap suatu materi
apabila beliau memang tidak paham. Sesuatu yang jarang dimiliki oleh seorang
pemimpin, apalagi pemimpin besar seperti CEO suatu perusahaan adalah kemauan
untuk ‘mendengarkan dan menyimak’ orang lain. Seperti beberapa pepatah
mengatakan bahwa, semakin tinggi posisi orang, maka semakin sulit ia membuka
telinganya untuk mendengar. Namun, berbeda dengan Michael, sebagai seorang
pemimpin besar, beliau terbilang sangat hebat dalam kemampuan mendengarkan orang
lain. Ini yang harus diteladani oleh para pemimpin masa kini! Kemauan untuk
mendengarkan. Siapapun orang yang berbicara, entah itu atasan atau bawahan
sekalipun.
Selain prinsip-prinsip di atas, Michael juga pernah
berkata “Core of leadership is
communication”. Artinya inti dari sebuah kepemimpinan adalah komunikasi. Dalam
alur yang diyakininya komunikasi dua arah akan menciptakan understanding, trust, respect, dan akhirnya komitmen. Komitmen inilah
yang akan membentuk rasa memiliki di antara anggotanya. Terlihat jelas begitu
pentingnya komunikasi dalam menjalankan kepemimpinan sehingga Tracy
mengungkapkan dalam bukunya How the Best
Leader Lead bahwa 95% problem di sebuah perusahaan berakar dari buruknya
atau tidak adanya sebuah komunikasi. Michael sendiri percaya bahwa masalah yang
sering timbul dalam suatu perusahaan adalah ‘lack
of direction’ dan ‘lack of feedback’.
Bahkan, Michael punya kutipan yang sangat disukainya tentang pentingnya
komunikasi. Kutipan dari Jenderal Collin Powell “Real leaders make them accessible and available”. Dari kutipan
tersebut, Michael menjalani setiap langkah kepemimpinannya dengan memudahkan
para anggotanya untuk menjangkau dirinya. Bahkan, beliau termasuk orang yang
selalu memberikan ‘quick response’
terhadap siapa saja yang menghubunginya. Inilah kunci besar kejayaan
kepemimpinan Michael. Be available for
everyone.
Kemudian, hal yang juga diajarkan Michael pada para
anggotanya adalah jangan pernah merasa puas terhadap keberhasilan saat ini. Quote
yang beliau nasihatkan pada para eksekutifnya adalah quote dari Rich Warren, “The greatest enemy for tommorow’s success
is today’s success”. Michael selalu mewanti-wanti kepada para anggotanya
untuk terus melaju dan meningkatkan performa meskipun Astra sudah gemilang
dengan kesuksesan-kesuksesannya.
Demikian review buku ‘Lead
by Heart’ yang menceritakan tentang kepemimpinan seorang Michael Dharmawan
Ruslim. Mungkin masih banyak pemikiran seorang Michael yang bisa teman-teman
dapatkan apabila langsung membaca bukunya. Buku ini sangat inspiratif bagi saya
karena saya belajar banyak mengenai strategi kepemimpinan yang sebelumnya tidak
terpikirkan oleh saya. Terima kasih kepada tim Astra International yang telah
bekerja keras membuat buku ini, terima kasih Bapak Michael yang telah
menginspirasi saya. Meskipun Bapak sudah tidak ada di dunia ini lagi, namun
profesionalisme dan karya-karya Bapak akan terus dikenang dan menginspirasi.
No comments:
Post a Comment