Saturday, July 14, 2012

Review Buku 'Lead by Heart' karya Astra International


Pertama kali saya melihat cover dari buku ini, saya tertarik dengan judulnya. ‘Lead by Heart’ yang diciptakan oleh Astra International, salah satu perusahaan terbesar dan ternama di Indonesia. Buku ini menceritakan tentang gaya kepemimpinan dan perjalanan Michael Dharmawan Ruslim dalam mengelola PT Astra International Tbk.
Michael D. Ruslim merupakan mantan CEO Astra International yang berhasil menumbuhkan bisnis dalam tubuh Astra sehingga Astra dapat berjaya dan bertahan sampai sekarang. Keberhasilan ini tidak lepas dari gaya kepemimpinan dan attitudenya yang akhirnya dapat mengubah mindset dan cara kerja keluarga Astra. Saya secara personal mengakui bahwa buku ini sangat layak untuk dibaca oleh khalayak, khususnya para pemuda yang memiliki passion dalam mengembangkan leadership skillnya. Dalam buku ini, kita dapat meneladani dan belajar bagaimana Michael menavigasi perjalanan Astra dengan gaya kepemimpinannya sehingga Astra dapat keluar dari krisis dan berjaya setelah krisis usai.
            Seperti yang disinggung sebelumnya bahwa Astra merupakan perusahaan besar di Indonesia. Karena kemampanan peranti manajeman dan fasilitas yang kaya serta variatif, Astra telah lama menjadi best practices di Indonesia. Bahkan kelompok usaha ini telah memiliki aset atau kapital di berbagai aspek, mulai dari financial, human, social, dan technology yang mendukung pertumbuhan dalam badan usaha ini. Astra sendiri memiliki prinsip Catur Dharma sebagai fondasi dalam menjalankan perjalanan bisnisnya. Catur Dharma tersebut antara lain: 1. Menjadi milik yang bermanfaat bagi bangsa dan negara; 2. Memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan; 3. Menghargai individu dan membina kerja sama; 4. Senantiasa berusaha mencapai yang terbaik. Seperti pancasila untuk negara Indonesia, Catur Dharma ini merupakan sebuah landasan yang selalu dipegang oleh Astra untuk mencapai tujuan-tujuannya. Terbukti, Catur Dharma ini berhasil mengawali Astra sebagai perusahaan terbesar di Indonesia yang memberikan sumbangsih terhadap kemajuan negara.
            Namun, perjalanan Astra menjadi perusahaan besar di Indonesia yang memiliki profit triliunan rupiah ini ternyata tidak mulus begitu saja. Pada tahun 1998, Astra sempat mengalami krisis karena kondisi ekonomi Indonesia yang pada saat itu memburuk. Pada saat itu, Astra mencapai kerugian 7,4 triliun rupiah dan harga sahamnya menurun drastis dari Rp. 4.000,00 menjadi Rp. 225, 00. Namun, berkat manajemen yang baik, Astra dapat bertahan melawan gelombang krisis sehingga Astra dapat melunasi seluruh kewajibannya pada kreditor pada tahun 2004. Pada tahun 2008, ketika krisis melanda Amerika dan wilayah Eropa, Astra tetap tegak dan tidak terlalu goyah karena fondasinya kini semakin kuat dan mengakar. Prestasi dan performanya semakin meningkat.
            Di balik suksesnya Astra, ternyata terdapat seorang pemimpin-pemimpin yang menahkodai perjalanan Astra. Salah satunya adalah Michael Dharmawan Ruslim atau sering dipanggil Pak Mike atau Pak Michael. Orang yang pernah menduduki posisi nomer satu di Astra ini dikenal dengan orang yang humble, low profile, pemalu, penyayang, lembut hatinya, namun tetap tegas, professional, dan memiliki intelektualitas yang sangat tinggi. Michael yang merupakan lulusan Universitas Barkeley, Amerika Serikat pada awalnya tidak mau menjadi CEO Astra. Alasannya, ia tidak mau jadi artis atau sorotan publik. Begitu pemalunya beliau sehingga beliau lebih suka bekerja di balik layar dan tidak mengembor-gemborkan (show off) kerja keras dan prestasinya. Bagi beliau, The most important thing is achievement, not position. Dimanapun posisi beliau, beliau selalu menunjukkan profesionalisme dan membuahkan prestasi-prestasi gemilang. Prestasi tersebut antara lain kesuksesannya dalam membangun dan memperkuat Divisi Jasa Keuangan dan Divisi Infrastruktur sebelum Michael menjadi CEO. Bahkan, saat beliau menjadi CEO pun, beliau berhasil mendapatkan berbagai prestasi dari berbagai institusi. Apabila ditanya soal prestasi yang berhasil beliau raih, beliau selalu mengatakan bahwa semua itu adalah kerja tim, bukan semata kerjanya seorang.
Seorang pemimpin tidak lepas dengan kata-kata ‘Creator’ dan ‘Builder’. Karena sejatinya, pemimpin harus memiliki kekuatan untuk menciptakan karya, dan kemudian membangun dan mempertahankan karya tersebut. Creator dan Builder sangat erat kaitannya dengan seorang konseptor yang memiliki imajinasi dan intensi untuk bisa diimplementasikan menjadi kenyataan. Imajinasi dan intensi inilah yang menjadi sebuah ‘kompas’ bagi pemimpin untuk menggerakkan anggota dan organisasinya. Michael pun bertindak demikian. Menjadi seorang konseptor yang mengimplementasikan apa yang menjadi imajinasi dan intensinya.
            Dalam menjalankan roda kepemimpinannya, Michael dikenal sebagai orang yang decisive. Berani mengambil keputusan, dengan terlebih dahulu memperhitungkan resikonya. Michael lebih berempati kepada eorang yang berani mengambil keputusan, tetapi gagal daripada orang yang selalu menghindari masalah dan takut mengambil keputusan. Oleh karena itu, Michael selalu mendorong anak buahnya untuk bersikap desicive, berani mengambil keputusan dengan memperhitungkan resiko. Beliau percaya, masalah tidak akan selesai jika terus dihindari. Walaupun ternyata keputusan yang dibuat berbuah kegagalan, toh kegagalan masih bisa dianalisis penyebabnya dan dijadikan pembelajaran. Hal yang terpenting adalah kita telah melakukan yang terbaik, masalah hasil ‘it’s a gut feeling’. Poin ini yang selalu dikemukakan dan ditekankan Michael untuk mendorong para anggotanya agar bersikap desicive.
            Sebagai seorang pemimpin, Michael juga menjalankan tugasnya sebagai ‘coach’ dan ‘communicator’. Kedua tugas ini merupakan tugas penting bagi seorang pemimpin karena pemimpin harus dapat berkomunikasi dengan para anggotanya sekaligus memfasilitasi mereka untuk selalu meningkatkan performa kerja mereka. Tentunya, tugas sebagai coach dan communicator harus dilakukan dengan efektif dan persisten. Tugas sebagai coach berarti pemimpin bertanggung jawab untuk melatih para anggotanya agar level kompetensinya dapat menjangkau imajinasi dan intensi yang telah di ‘create’ oleh pemimpin. Kemudian, sebagai communicator, pemimpin harus dapat mengkomunikasikan imajinasi dan intense yang ia ‘create’ kepada para anggota timnya sehingga baik pemimpin maupun para anggotanya memiliki tujuan dan arah yang sama.
            Sejak menjadi bagian dari Astra, Michael sudah dikenal memiliki dua sikap yang tak pernah lepas dari dirinya. Yang pertama, constancy of purpose. Maksud dari constancy of purpose, Michael selalu berupaya untuk memperjuangkan sekuat tenaga imajinasi dan intensi yang telah ia buat. Dengan prinsip ‘all out’ dan ‘winning mentality’, beliau tidak kenal lelah memperjuangkan apa yang telah ia ‘create’. Ini terbukti ketika beliau dengan sungguh-sungguh membangun sejumlah perusahaan joint venture di sektor pembiayaan. Selain constansy of purpose, Michael juga memilki sikap consistency in behavior. Beliau konsisten dalam sikapnya menjadi seorang leader. Sikapnya yang humble, penuh empati, halus, tak lekang oleh waktu. Michael juga selalu menjalankan tugasnya sebagai coach dan communicator dengan baik.
            Michael memang dikenal sebagai orang yang suka menolong dimana sifatnya ini tidak timbul begitu saja. Hal tersebut dapat dikatakan sebagai ‘nature’ dan ‘nurture’, dimana nature merupakan sikap penolong yang memang dimiliki Michael sejak dulu, sedangkan ‘nurture’ merupakan pengembangan dari sikap nature yang dilakukannya secara persisten. Nature dan nurture inilah yang kemudian membentuk personal mastery. Inilah yang disebut personal mastery, penguasaan dan kemampuan pada bidang yang ditekuni. Terkait personal mastery, saya mengambil kutipan Martin Luther King-pemimpin kulit hitam AS-, “Jika seseorang terpanggil menjadi tukang sapu, maka seharusnya ia menyapu seperti Michaelangelo melukis, seperti Beethoven menuliskan komposisi musiknya, atau Shakespeare menuliskan puisinya. Dia seharusnya menyapu begitu baik, sehingga bumi dan surga akan berhenti sejenak untuk berkata “Di sini telah hidup seorang penyapu jalan yang begitu hebat, yang melakukan pekerjaannya dengan begitu baik”. Begitu pentingnya personal mastery agar seseorang dapat melakukan pekerjaannya dengan sebaik-baiknya sehingga ia mampu menciptakan karya-karya yang luar biasa. Inilah yang diterapkan seorang Michael dalam melakukan perannya sebagai seorang pemimpin.
            Dalam melaksanakan tugasnya menavigasi pasukan Astra, Michael telah menggunakan Catur Dharma sebagai fondasinya, dan 3W sebagai strateginya. Apa itu 3W? 3W adalah singkatan dari Winning Concept, Winning System, dan Winning Team. Winning Concept merupakan kumpulan-kumpulan ide yang membentuk sebuah konsep dimana konsep tersebut memiliki hal yang lebih unggul dibandingkan konsep yang lain. Winning Concept berarti konsep yang ditawarkan harus berbeda, tidak sama dengan konsep lain. Harus baru, segar, dan menawarkan solusi yang lebih baik. Kemudian Winning System, merupakan sistem yang digunakan untuk menjalankan Winning Concept. Sistem ini yang nantinya menemani perjalanan dalam implementasi Winning Concept. Yang terakhir, yang tidak kalah pentingnya adalah Winning Team. Winning Team merupakan orang-orang pilihan yang memang memiliki personal mastery. Orang-orang yang reliable, dipercaya bahwa mereka akan melakukan tugas-tugas dengan sebaik-baiknya. Sebab, Winning Concept dan Winning System hanya akan sia-sia apabila tidak ditangani oleh orang yang mampu menjalaninya.
            Bicara tentang kepemimpinan, memang tidak lepas dengan sebuah navigasi. Karena pemimpin memang bak seorang nahkoda yang menavigasi kemana kapalnya akan pergi. John.C.Maxwell merupakan seorang pemikir tentang kepemimpinan yang telah menginspirasi Michael dalam menavigasi Astra. Dalam bukunya John.C.Maxwell, menuliskan “Anyone can steer the ship, but it takes a leader to chart the course”. Artinya, semua orang dapat menyetir sebuah kapal, namun dibutuhkan seorang pemimpin untuk menavigasi kapal tersebut. Ada 4 elemen dalam hukum navigasi, elemen pertama penentuan arah. Pemimpin bertugas menentukan arah kemudi atau arah organisasinya, menetapkan sasaran, tujuan, dan prioritas. Elemen kedua adalah antisipasi. Seorang pemimpin tidak hanya harus mampu menentukan arah. Pemimpin juga harus dapat terlebih dahulu mengetahui jalan yang dituju, memperhitungkan apa saja yang dibutuhkan untuk melakukan perjalanan, serta mengetahui orang-orang yang dibutuhkan dalam mencapai tujuan. Elemen ketiga adalah control, dimana selama melakukan perjalanan, pemimpin harus selalu mengecek seluruh komponen yang ada, termasuk fisik dan non fisik (emosional) anggotanya. Elemen terakhir adalah mendengarkan. Seorang pemimpin harus mengetahui kondisi internal dengan cara mendengarkan para anggotanya. Lingkungan eksternal pun juga harus diketahui agar pemimpin dapat mengetahui apa yang telah terjadi di luar.
            Michael dalam kepemimpinannya menerapkan sistem demokrasi pemimpin. Mungkin sebagian orang menganggap bahwa demokrasi terpimpin merupakan konotasi negatif. Namun dalam hal ini, Michael terbilang berhasil menumbuhkan perusahaan melalui sistem ini. Maksud dari demokrasi terpimpin adalah semua anggota dipacu untuk berpartisipasi dalam memunculkan ide-ide baru dan menggerakkan roda Astra. Michael hanya sebagai fasilitator dan pembuat keputusan terakhir. Contohnya pada saat rapat, pada awalnya Michael mengajak para anggotanya untuk mengemukakan pendapat dan ide-ide mereka terlebih dahulu. Baru untuk keputusan akhir, Michael yang memiliki wewenang. Michael orang yang open-minded dan tidak malu untuk mengakui ketidakpahamannya terhadap suatu materi apabila beliau memang tidak paham. Sesuatu yang jarang dimiliki oleh seorang pemimpin, apalagi pemimpin besar seperti CEO suatu perusahaan adalah kemauan untuk ‘mendengarkan dan menyimak’ orang lain. Seperti beberapa pepatah mengatakan bahwa, semakin tinggi posisi orang, maka semakin sulit ia membuka telinganya untuk mendengar. Namun, berbeda dengan Michael, sebagai seorang pemimpin besar, beliau terbilang sangat hebat dalam kemampuan mendengarkan orang lain. Ini yang harus diteladani oleh para pemimpin masa kini! Kemauan untuk mendengarkan. Siapapun orang yang berbicara, entah itu atasan atau bawahan sekalipun.
            Selain prinsip-prinsip di atas, Michael juga pernah berkata “Core of leadership is communication”. Artinya inti dari sebuah kepemimpinan adalah komunikasi. Dalam alur yang diyakininya komunikasi dua arah akan menciptakan understanding, trust, respect, dan akhirnya komitmen. Komitmen inilah yang akan membentuk rasa memiliki di antara anggotanya. Terlihat jelas begitu pentingnya komunikasi dalam menjalankan kepemimpinan sehingga Tracy mengungkapkan dalam bukunya How the Best Leader Lead bahwa 95% problem di sebuah perusahaan berakar dari buruknya atau tidak adanya sebuah komunikasi. Michael sendiri percaya bahwa masalah yang sering timbul dalam suatu perusahaan adalah ‘lack of direction’ dan ‘lack of feedback’. Bahkan, Michael punya kutipan yang sangat disukainya tentang pentingnya komunikasi. Kutipan dari Jenderal Collin Powell “Real leaders make them accessible and available”. Dari kutipan tersebut, Michael menjalani setiap langkah kepemimpinannya dengan memudahkan para anggotanya untuk menjangkau dirinya. Bahkan, beliau termasuk orang yang selalu memberikan ‘quick response’ terhadap siapa saja yang menghubunginya. Inilah kunci besar kejayaan kepemimpinan Michael. Be available for everyone.
            Kemudian, hal yang juga diajarkan Michael pada para anggotanya adalah jangan pernah merasa puas terhadap keberhasilan saat ini. Quote yang beliau nasihatkan pada para eksekutifnya adalah quote dari Rich Warren, “The greatest enemy for tommorow’s success is today’s success”. Michael selalu mewanti-wanti kepada para anggotanya untuk terus melaju dan meningkatkan performa meskipun Astra sudah gemilang dengan kesuksesan-kesuksesannya.
            Demikian review buku ‘Lead by Heart’ yang menceritakan tentang kepemimpinan seorang Michael Dharmawan Ruslim. Mungkin masih banyak pemikiran seorang Michael yang bisa teman-teman dapatkan apabila langsung membaca bukunya. Buku ini sangat inspiratif bagi saya karena saya belajar banyak mengenai strategi kepemimpinan yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh saya. Terima kasih kepada tim Astra International yang telah bekerja keras membuat buku ini, terima kasih Bapak Michael yang telah menginspirasi saya. Meskipun Bapak sudah tidak ada di dunia ini lagi, namun profesionalisme dan karya-karya Bapak akan terus dikenang dan menginspirasi. 

No comments:

Post a Comment