Inilah ketika passion bertemu dengan
passion. Jika Tuhan berkehendak memperpanjang lama rotasi, saya ingin menjalani
semua passion saya. Sayangnya, satu hari tetap 24 jam dan satu jam tetap 60
menit.
Minggu ini benar-benar padat. Energi dan pikiran
terkuras habis untuk urusan akademis dan comdev yang sedang saya bangun bersama
teman-teman saya. Begitu berharganya setiap detik yang saya jalani. Begitu
mahalnya setiap pengalaman yang saya lalui. Sekecil apapun
pengalaman-pengalaman itu, bagi saya itu adalah sesuatu yang akan menjadi besar.
Saya percaya
bahwa sesuatu yang besar sesungguhnya berasal dari agregasi sesuatu yang kecil.
Sedikit bercerita, saya adalah orang yang kompetitif namun saya merasa saya
bukan orang yang oportunis. Saya sangat peduli terhadap pengembangan diri saya,
namun saya juga tidak bisa melupakan ‘kontribusi
apa yang sudah saya lakukan paling tidak untuk orang-orang di sekitar saya?’. Pembagian diri antara self development dan community
development memang tidak
semudah menendang bola sepak. Energi yang dikeluarkan harus berkali-kali lipat
lebih besar. Bahkan terkadang terjadi dilema dan konflik dalam diri sendiri
ketika dihadapkan pada situasi dimana saya harus memilih pengembangan diri atau
pengembangan masyarakat.
Beruntung, dua-duanya adalah passion saya. Apa yang saya kerjakan saat ini,
baik itu untuk diri saya sendiri maupun untuk masyarakat, semuanya adalah
passion saya. Ya, saya sedang bermain dengan passion saya. Ketika orang bertemu
dengan passionnya, maka tantangan sebesar apapun pasti dilaluinya. Ia hanya
memikirkan bagaimana cara bermain passion dengan benar dan lincah. Menurut
saya, ketika seseorang berkata, “Yes, I’m passionate in” maka ia akan
mengejar dan menggali itu tanpa mengenal kata lelah dan menyerah.
Bagi saya, bertemu passion adalah anugerah. Karena hampir 20 tahun, saya,
seorang yang sangat biasa. belum menemukan passion apa-apa. Sampai pada
akhirnya, saya bertemu kak Alia, CEO Dreamdelion yang telah menginspirasi
banyak hal. Dari kak Alia, saya belajar bagaimana sebuah tulisan dapat mengubah
dunia. Dengan menulis, kita dapat mengekspresikan perasaan dan memaparkan
gagasan serta ide yang bergelimang di otak kita. Saya belajar bahwa orang-orang
besar lahir dari tulisan-tulisan yang mereka buat. Oleh karena itu, saya
mencoba untuk mulai menulis. Saya memang masih awam dalam penulisan, tapi
sepertinya saya mulai menemukan passion saya. Saya tidak mau berhenti menulis
sampai dunia hendak berubah karena tulisan saya. Saya ingin saya bisa memberi
secercah perubahan-perubahan kecil yang akan menjadi besar melalui apa yang
saya tulis. Saya ingin memberi setidaknya pandangan saya kepada orang lain
sehingga apa yang saya pikirkan dapat menjadi sumbangsih dan bukan hanya
angan-angan di kepala. Terima kasih kak Alia.
Passion saya
kedua adalah kesehatan komunitas. Saya memang bukan tipikal gadis yang pandai
menjaga kesehatan diri sendiri. Tapi saya peduli terhadap kesehatan orang
banyak. Saya ingin menggali lebih dalam mengapa komunitas di wilayah ini belum
bisa menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, mengapa terjadi epidemi
penyakit tertentu di wilayah itu, apa yang menyebabkan tingginya angka kematian
di wilayah tertentu. Semuanya menarik untuk ditelusuri dan dipecahkan
masalahnya. Mau tidak mau, jika saya menyebut ini passion saya, maka saya harus
sesegera mungkin memantaskan diri agar dapat menjadi role model bagi masyarakat untuk terus menerapkan
perilaku hidup bersih dan sehat.
Passion
ketiga adalah tari. Saya tidak tahu ini passion atau tidak. Tapi setiap saya
melihat seseorang menari, saya selalu teringat bagaimana saya menari beberapa
tahun lalu ketika saya berada di bangku SMP dan SMA. Saya selalu ingin
meliukkan badan saya, tersenyum pada tribun, menggerakkan kaki dan tangan
seirama alunan musik, dan menghipnotis pentas dan jagat rayanya hingga hati
mereka terguncah senang dan takjub akan hasil karsa manusia. Saya selalu
menemukan kebahagiaan dan udara segar pada saat menari. Namun, sudah lama saya
tak menari karena saya tahu saya tidak mungkin menjalani semuannya. Saya
teringat sebuah kutipan, “Kamu
tidak bisa memilih dua, jika kamu memilih keduanya, maka keduanya akan gagal”. Saya harus memilih menekuni passion
saya lainnya, meskipun saya tidak bisa mendeskripsikan betapa cintanya saya
pada tari.
Inilah
ketika passion bertemu dengan passion. Jika Tuhan berkehendak memperpanjang
lama rotasi, saya ingin menjalani semua passion saya. Sayangnya, satu hari
tetap 24 jam dan satu jam tetap 60 menit. Maka, saya tidak bisa serakah
mencumbui semua passion. Perlahan-lahan saya mulai jarang sekali menari
meskipun saya selalu menemukan udara segar ketika menari.
No comments:
Post a Comment