Thursday, December 20, 2012

Ketika Passion Bertemu Passion



Inilah ketika passion bertemu dengan passion. Jika Tuhan berkehendak memperpanjang lama rotasi, saya ingin menjalani semua passion saya. Sayangnya, satu hari tetap 24 jam dan satu jam tetap 60 menit. 


          Minggu ini benar-benar padat. Energi dan pikiran terkuras habis untuk urusan akademis dan comdev yang sedang saya bangun bersama teman-teman saya. Begitu berharganya setiap detik yang saya jalani. Begitu mahalnya setiap pengalaman yang saya lalui. Sekecil apapun pengalaman-pengalaman itu, bagi saya itu adalah sesuatu yang akan menjadi besar.

Saya percaya bahwa sesuatu yang besar sesungguhnya berasal dari agregasi sesuatu yang kecil.

          Sedikit bercerita, saya adalah orang yang kompetitif namun saya merasa saya bukan orang yang oportunis. Saya sangat peduli terhadap pengembangan diri saya, namun saya juga tidak bisa melupakan ‘kontribusi apa yang sudah saya lakukan paling tidak untuk orang-orang di sekitar saya?’. Pembagian diri antara self development dan community development memang tidak semudah menendang bola sepak. Energi yang dikeluarkan harus berkali-kali lipat lebih besar. Bahkan terkadang terjadi dilema dan konflik dalam diri sendiri ketika dihadapkan pada situasi dimana saya harus memilih pengembangan diri atau pengembangan masyarakat.

          Beruntung, dua-duanya adalah passion saya. Apa yang saya kerjakan saat ini, baik itu untuk diri saya sendiri maupun untuk masyarakat, semuanya adalah passion saya. Ya, saya sedang bermain dengan passion saya. Ketika orang bertemu dengan passionnya, maka tantangan sebesar apapun pasti dilaluinya. Ia hanya memikirkan bagaimana cara bermain passion dengan benar dan lincah. Menurut saya, ketika seseorang berkata, “Yes, I’m passionate in” maka ia akan mengejar dan menggali itu tanpa mengenal kata lelah dan menyerah.

          Bagi saya, bertemu passion adalah anugerah. Karena hampir 20 tahun, saya, seorang yang sangat biasa. belum menemukan passion apa-apa. Sampai pada akhirnya, saya bertemu kak Alia, CEO Dreamdelion yang telah menginspirasi banyak hal. Dari kak Alia, saya belajar bagaimana sebuah tulisan dapat mengubah dunia. Dengan menulis, kita dapat mengekspresikan perasaan dan memaparkan gagasan serta ide yang bergelimang di otak kita. Saya belajar bahwa orang-orang besar lahir dari tulisan-tulisan yang mereka buat. Oleh karena itu, saya mencoba untuk mulai menulis. Saya memang masih awam dalam penulisan, tapi sepertinya saya mulai menemukan passion saya. Saya tidak mau berhenti menulis sampai dunia hendak berubah karena tulisan saya. Saya ingin saya bisa memberi secercah perubahan-perubahan kecil yang akan menjadi besar melalui apa yang saya tulis. Saya ingin memberi setidaknya pandangan saya kepada orang lain sehingga apa yang saya pikirkan dapat menjadi sumbangsih dan bukan hanya angan-angan di kepala. Terima kasih kak Alia.

Passion saya kedua adalah kesehatan komunitas. Saya memang bukan tipikal gadis yang pandai menjaga kesehatan diri sendiri. Tapi saya peduli terhadap kesehatan orang banyak. Saya ingin menggali lebih dalam mengapa komunitas di wilayah ini belum bisa menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, mengapa terjadi epidemi penyakit tertentu di wilayah itu, apa yang menyebabkan tingginya angka kematian di wilayah tertentu. Semuanya menarik untuk ditelusuri dan dipecahkan masalahnya. Mau tidak mau, jika saya menyebut ini passion saya, maka saya harus sesegera mungkin memantaskan diri agar dapat menjadi role model bagi masyarakat untuk terus menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.

Passion ketiga adalah tari. Saya tidak tahu ini passion atau tidak. Tapi setiap saya melihat seseorang menari, saya selalu teringat bagaimana saya menari beberapa tahun lalu ketika saya berada di bangku SMP dan SMA. Saya selalu ingin meliukkan badan saya, tersenyum pada tribun, menggerakkan kaki dan tangan seirama alunan musik, dan menghipnotis pentas dan jagat rayanya hingga hati mereka terguncah senang dan takjub akan hasil karsa manusia. Saya selalu menemukan kebahagiaan dan udara segar pada saat menari. Namun, sudah lama saya tak menari karena saya tahu saya tidak mungkin menjalani semuannya. Saya teringat sebuah kutipan, “Kamu tidak bisa memilih dua, jika kamu memilih keduanya, maka keduanya akan gagal”. Saya harus memilih menekuni passion saya lainnya, meskipun saya tidak bisa mendeskripsikan betapa cintanya saya pada tari.


Inilah ketika passion bertemu dengan passion. Jika Tuhan berkehendak memperpanjang lama rotasi, saya ingin menjalani semua passion saya. Sayangnya, satu hari tetap 24 jam dan satu jam tetap 60 menit. Maka, saya tidak bisa serakah mencumbui semua passion. Perlahan-lahan saya mulai jarang sekali menari meskipun saya selalu menemukan udara segar ketika menari.


No comments:

Post a Comment