Monday, September 23, 2013

Tentang Sahabat dan Kesendirian

Tentang Sahabat dan Kesendirian
Senin, tanggal 23 September 2013, tepat pukul 21:59, di sebuah Kos Stasiun Pondok Cina

          Pernahkah terbayang jika kamu hanya hidup sendiri di dunia ini? Tidak ada keluarga yang menjagamu, tidak ada teman yang mendukungmu, tidak ada musuh yang mendorongmu untuk terus berlari, tidak ada siapapun yang peduli terhadap hidupmu. Mungkin kurang lebih aku tau rasanya. Oleh karenanya, aku begitu paham. Mengapa Allah menciptakan Hawa untuk Adam. Mengapa Allah membangun peradaban lewat keturunan Adam. Mengapa Allah menciptakan manusia untuk berpasang-pasangan. Mengapa Allah menciptakan puluhan ribu manusia di muka bumi beserta sumber alam yang melimpah.
Itu karena Allah sayang pada setiap hamba-Nya. Allah tidak mau melihat kita sendiri. Allah memberikan keluarga agar kita selalu merasa aman, memberikan sahabat agar ada yang selalu mendukung, menciptakan jodoh agar kita dapat memahami arti mencintai dan dicintai. Bahkan, Allah dengan baik hati mengirimkan musuh agar kita tidak sombong ketika di atas dan tidak lengah ketika kita sedang di bawah. Semua orang yang masuk ke hidupmu adalah sangat berarti. Sama sekali tidak ada yang tidak berarti. Karena Allah selalu punya tujuan untuk memasukkan mereka satu per satu dalam hidupmu. Maka, hargailah kehadiran mereka sebelum terlambat. Karena aku pun pernah melakukan kesalahan. Aku tidak menghargai kehadiran mereka dan akhirnya kehilangan mereka satu per satu. Tapi tahukah kamu? Justru dalam keadaan aku sendiri, aku juga belajar. Tentang kehadiran Dzat yang tidak akan pernah hilang dalam hidup kita. Kehadiran Dzat yang meski kita sia-siakan kehadirannya, Ia akan tetap ada. Menjaga kita, menyayangi, dan mencintai kita. Dari segala kesendirianku, aku semakin memahami bahwa tidak ada cinta yang lebih besar dari cinta Tuhan kepada hamba-Nya.

          Beberapa kali aku mendengar opini teman-temanku tentangku. Kesimpulanku dari seluruh opini yang mereka sampaikan adalah mereka masih belum terlalu mengenalku. Mungkin mereka melihatku sebagai seseorang yang percaya diri dan memiliki konsep diri yang positif, mampu mengaktualisasikan diri, menggali potensi diri, dan memberdayakan diri sendiri. Beberapa bahkan ada yang menilai aku cakap dan mampu membawa diri. Terlihat optimis dan antusias dalam melakukan sesuatu.
          Jika aku ingat-ingat pendapat mereka. Aku hanya bisa tersenyum. Karena ternyata, banyak orang tertipu dengan peringaiku. Banyak yang tidak tau bahwa level percaya diriku begitu rendah. Banyak juga yang tidak tau bahwa dibalik keramahanku, aku menyimpan banyak sekali sifat buruk. Kekurangan-kekuranganku itu membuat aku kehilangan satu per satu orang-orang yang aku sayang dan menyayangiku. Menyesal? Ya, pasti. Tapi hidup tetap akan berjalan, tidak pernah berhenti. Maka, jika akhirnya aku sendiri di dunia ini, aku harus tetap berjalan, seberat apapun penyesalan.
          Banyak orang yang menyadari bahwa aku adalah tipikal orang yang “kalau jalan sendirian, kalau makan ke kantin sendirian, kalau main ke mall sendirian, ngekos kayanya sendiri juga, semuanya serba sendiri”. Memang benar adanya! Dari dulu, sejak aku SMP sampai sekarang, aku tidak pernah memiliki teman dekat atau sahabat dekat. Bukan karena aku tidak mau, tapi karena mereka meninggalkanku atau aku yang meninggalkan mereka. Saat aku duduk di Sekolah Dasar, kelas 1-5 aku sama sekali tidak memiliki teman dekat. Aku yang begitu kecil, udik, dan jelek sangat mudah untuk diolok-olok teman, diacuhkan, dan bahkan mengalami penyiksaan fisik. Ini baru aku rasakan sekali saat aku berada di kelas 4-5 SD. Ketika teman-teman sebayaku seringkali memukulku, menghinaku, bahkan aku pernah dibenturkan ke tembok oleh seorang teman TANPA TAU APA PENYEBABNYA. Aku mengalami perlakuan kasar, mulai dari hinaan, cacian, pukulan, semuanya aku rasakan. Alasannya? Mungkin karena aku udik dan tidak berpenampilan menarik, mereka semua merendahkanku. Tau rasanya bagaimana? Tidak perlu aku jelaskan. Mama yang paling mengerti keadaanku saat itu bahkan berniat memindahkan aku ke sekolah lain, walau akhirnya tidak kesampaian juga. Tapi aku bangga dengan diriku sendiri. Meski diperlakukan tidak baik, tapi aku mampu berprestasi. Beberapa kali menjadi 5 besar siswa terbaik di kelas, bahkan pernah ditunjuk untuk mengikuti seleksi siswa teladan di sekolah itu. Itu bagusnya. Buruknya, tumbuhlah aku menjadi seseorang yang tidak percaya diri, membenci ketidakadilan, mudah iri, dan selalu ingin ‘terlihat’ baik di mata orang. Kamu pikir aku senang dengan pribadi seperti ini? Semua orang juga tau bahwa jawabannya tidak. Karena pribadi seperti ini yang membuatku kehilangan sahabat-sahabat yang Allah kirimkan untukku.
          Seiring berjalannya waktu, aku naik ke kelas 6 SD. Pada saat itu aku dipertemukan dengan tiga sahabat yang baik hati. Dulu sampai-sampai kita punya geng namanya 4@ngel. Hahahaha. Lucu sekali ya! Namun, persahabatan itu kandas ketika masa sekolah dasar kami berakhir. Kami berempat sudah tidak pada sekolah yang sama. Dua diantaranya sudah lost contact, namun aku masih dekat dengan satu orang lainnya. Aku pikir persahabatan kami akan terus berlanjut sampai  kakek-nenek. Ternyata keliru! Pada saat kami kelas 2 SMP, kami terpisah karena dia terlalu sering membandingkan aku dengan temannya yang baru. Temannya yang baru lebih cantik dariku sehingga dia lebih merasa ‘wah’ jika bersahabat dengannya. Daripada bersahabat denganku yang masih terlihat udik. Hahahaha, absurd ya? But, it’s reality!
          Baiklah. Hidup tetap saja berjalan. Kehilangan satu sahabat tidak terlalu mengguncang hidupku saat itu, Karena, dia yang meninggalkanku dengan alasan yang absurd pula. Jadi buat apa berlama-lama bersedih. Pada saat SMP, aku nyaris sama sekali tidak punya teman dekat. Prestasiku pun biasa-biasa saja. Aku yang masih terkungkung dalam rasa percaya diri yang rendah, seringkali tidak eksis dalam pergaulan. Seringkali merasa minder dan tak banyak bicara. Itu mungkin salah satu alasan mengapa banyak teman SMP yang tidak mengingatku.
          Saat SMA, percaya diriku mulai naik. Hobiku menari akhirnya mengantarku menjadi ketua kelompok tari di sekolah itu. Aku yang sebelumnya tak pernah menjadi pemimpin dan tak pernah membayangkan menjadi pemimpin, berlaku semena-mena terhadap para partnerku. Aku terlalu otoriter dan memforsir mereka. Sungguh itu kulakukan demi kebaikan mereka sendiri, meskipun caranya yang salah. Akhirnya, semakin lama ditekan, mereka tak tahan juga. Sebanyak sekitar 50 orang kupimpin waktu itu. Dan hampir semuanya menghakimiku dan menghukumku dalam suatu forum. Aku yang saat itu ‘sendirian’ lagi-lagi tak dapat berkutik. Itu salah satu cobaan terberat bagiku di umur 17 tahun. Dikucilkan, ditekan, dihakimi, aku sudah makan semua itu di umurku yang masih belia. Rasa percaya diri yang mulai tumbuh akhirnya jatuh lagi tanpa ada indikasi naik kembali. Setelah kejadian itu, hidup memang terus berjalan, bedanya aku tidak pernah lepas dari rasa minder situasional dan mulailah ada keinginan untuk terlihat ‘keren’ di mata orang lain. Mungkin itu efek karena ingin menutupi rasa minderku.
          Akhirnya, aku berada di bangku kuliah. Tak tau mengapa, tapi aku merasa percaya diriku tumbuh. Semakin hari, semakin tumbuh. Semakin hari, semakin ingin berprestasi. Dan tetap saja, sifat itu menghantuiku. Ya, sifat itu. Sifat ‘ingin terlihat bagus di mata orang lain’. Jangan kira aku suka dengan sifat ini. Tidak! Sama sekali tidak. Selain karena Allah membenci sifat itu, aku pun merasa tidak nyaman dengan sifat itu. Tapi apa daya? Sifat itu selalu saja muncul. Menggangguku. Meski sering aku usik, tetap saja sifat itu muncul. Sifat itu yang akhirnya membuat aku menjadi seseorang yang ‘ingin lebih dari orang lain’. Sifat kompetitifku begitu naik drastis dan aku cenderung menjadi single fighter. Kamu pikir siapa yang mau berteman dekat dengan orang yang sifatnya sepertiku? Tidak ada J
          Beberapa teman dekat akhirnya menjauh dariku karena aku lebih menghargai progressku daripada pertemanan kita. Mereka aku acuhkan karena aku terlalu fokus mengejar mimpi-mimpiku. Mereka tidak aku hargai kehadirannya karena sifat burukku ini. Mereka menjauh karena tak nyaman dengan aku yang selalu iri dengan prestasi orang lain dan berambisi untuk jadi lebih baik. Kamu pikir aku senang dengan sifat kompetitifku? Jawabannya tidak. Sama sekali tidak J
          Setelah tahun ketiga aku berada di bangku kuliah, tanpa teman dekat, akhirnya aku bertemu seseorang yang sampai sekarang kehadirannya begitu berarti buatku. Seseorang yang tidak hanya mau jadi sahabatku dan menerima segala kekurangannku, tetapi juga membuat aku semakin berprestasi. Namun, lagi-lagi sifat burukku muncul. Aku yang membenci ketidakadilan, selalu kompetitif, dan perfeksionis, tidak mampu mentolerir beberapa kesalahpahaman antara aku dengan orang ini. Aku bertarung dengan diriku sendiri. Mencoba untuk mengontrol ego dan emosiku yang tinggi. Namun, aku tetap saja aku. Aku tak mampu melawan berbagai konflik batin yang ada di dalam diriku sendiri. Aku meledak. Membuat sebuah pesan tertulis pada orang ini dan menyampaikan semua ketidaksukaanku pada perlakuan orang ini kepadaku. Ya, kesalahan kesekian kali yang aku lakukan. Sama. Ini membuatku kehilangan sahabat. Orang yang Allah kirimkan agar aku tidak sendirian. Kini, aku menyia-nyiakannya lagi.
Menyesal? Pasti. Tapi aku belajar dari kesendirianku. Belajar bahwa Allah selalu ada. Allah akan selalu jadi Tuhan yang setia mendengarkan dan menenangkanku. Sekarang aku tau makna dari sebuah quote, “Allah saja sudah cukup” karena aku benar-benar merasakannya ketika dalam kesendirianku.
Tapi itu bukan sebuah excuse bagiku untuk tidak memperbaiki diri. Baiknya sekarang aku menjauh dari orang-orang, memperbaiki diri, merecover semua sakit hatiku, menyembuhkan segala penyakit batinku. Memang tidak enak sendirian. Tapi itu lebih baik daripada aku harus menyakiti orang lain, daripada aku harus menyia-nyiakan lagi kehadiran seseorang dalam hidupku. Lebih baik aku jadi orang baik dulu sampai aku siap menerima kehadiran orang lain dalam hidupku.
Toh, sebenarnya aku tak sendirian. Walau tak punya teman dekat, keluargaku masih tetap setia menyayangiku. Allah juga tetap masih ada, tidak pernah kemana-mana.
Aku menulis ini bukan ingin mencari simpati atau empati. Aku menulis ini agar teman-teman yang membaca bisa belajar dari kesalahan hidupku dan tidak melakukan kesalahan yang sama.
Aku yakin. Suatu saat nanti, aku akan jadi pribadi yang lebih baik, yang lebih terbuka, lebih percaya diri, mampu mengontrol diri, tidak mudah iri, dan juga tidak riya’.
Kamu yang telah membaca ini, akan menjadi saksi bahwa aku pasti berubah jadi lebih baik. J

3 comments:

  1. salam kenal fai :) i cant believe there is someone like me.. single fighter.. thank you so much for sharing :D keep up the goodwork :D

    ReplyDelete
  2. Menyentuh bingittt....

    ReplyDelete