Saturday, January 11, 2014

Pacaran. Yay or Nay?


            Mungkin pembahasan ini sering kamu temui dari beberapa artikel atau kultweet ustadz twitter yang tidak perlu saya sebutkan namanya karena kamu pasti sudah akrab dengan hashtag #UdahPutusinAja. Tapi tenang saja. Disini saya bukan berlagak macam ustadzah yang memprovokasi kamu untuk memutuskan pacarmu atau memaksa kamu untuk mempertahankan kejombloanmu. Melalui tulisan ini, saya hanya ingin memberi gambaran dan pengalaman tentang hidup saya sebelum dan setelah pacaran. Soal kamu ingin putus atau tidak dengan pacar kamu setelah membaca tulisan ini, itu sepenuhnya hak kamu. Saya tidak melarang kamu. Soal kamu ingin keep single setelah membaca tulisan ini, itu juga hak kamu. Saya tidak memaksa kamu J
            Lebih dari setengah tahun yang lalu saya punya seorang pacar yang sekarang sudah jadi mantan. Sebenarnya, bukan sekali itu saya pacaran. Sejak SMA saya memang sudah beberapa kali pacaran meskipun tidak berorientasi pada pernikahan. Atau bisa dibilang hanya cinta monyet belaka. Berbeda dengan pacaran-pacaran sebelumnya, saya mengorientasikan pacaran saya-setengah tahun yang lalu- sebagai pacaran yang akan berujung pada pernikahan. Bagi laki-laki, mungkin hal itu terlalu dini, terlalu cepat, terlalu gegabah, terlalu…. Apalagi? Apapun itu, tapi menurut saya dan teman-teman wanita saya, hal itu adalah hal yang lumrah dan sah-sah saja. Pemikiran wanita memang lebih visioner, lebih cepat matang, dan berpikir ke depan. Itulah sebabnya, gak perlu kaget kalau wanita ingin menikah lebih cepat dibandingkan pria. Permasalahannya, apakah ‘pacaran’ bisa menjamin bahwa pada akhirnya akan berlanjut ke pelaminan? Apakah ‘pacar’ kamu yang setiap hari sms kamu, telpon kamu, tanya kabar kamu, tanya kamu lagi apa, bareng siapa, adalah 100% jodoh kamu? Apakah ada jaminannya? It’s fine kalau ternyata pacar kamu sekarang adalah memang benar jodoh kamu. Nah, kalau bukan? Berapa waktu yang telah kamu habiskan? Berapa banyak energi yang sudah kamu buang bersama orang yang bukan jodoh kamu? Mungkin quote ini bisa merepresentasikan hal itu: Someone you text everyday and hang out so often, can just turn into a complete stranger the next moment (anonym). Sudah siap kalau ternyata hal itu terjadi? Hanya kamu sendiri yang punya jawabannya J
            Saya tahu kok rasanya putus dengan pacar. Saya paham rasanya patah hati. Dulu, waktu baru-baru putus, saya merasa hancur sekali. Hidup segan, mati ya mau mau enggak. Semuanya yang indah jadi tak indah dalam sekejap. Segala tawa hilang ditelan naga. Kebahagian seakan runtuh seperti pantai yang sedang mengalami abrasi. Setiap hari mendengarkan lagu sedih biar pas dengan suasana hati waktu itu. Sedikit-sedikit sesegukan menangis. Beberapa menit sekali baca ulang percakapan saya dengan mantan saya di whatsapp. Atau sesekali ngepo twitter dan facebook mantan. Pokoknya, galau to the max! Saya merasa bodoh? Tentu saja tidak J Bagi kamu yang sudah pernah merasakan bagaimana rasanya putus dengan orang yang kamu cintai pasti bisa memahami ini. Apalagi orang itu adalah harapan masa depan kamu, Merasa sedih itu wajar. Kalau saya gembira jingkrak-jingkrak, ya itu yang tidak wajar dan mungkin harus dilarikan ke rumah sakit jiwa.
            Kurang lebih 1-2 bulan saya merasa dalam masa-masa krisis emosional itu. Perjalanan yang panjang untuk melupakan seorang mantan. Hidup tak bergairah, nafsu makan menurun, sering melamun, tidak produktif. Pokoknya benar-benar menguras energi, waktu, dan pikiran. Untungnya ada keluarga yang selalu menyemangati dan sahabat-sahabat yang selalu menemani. Pada akhirnya, saya sadar bahwa hidup saya terus berjalan. Hidup saya belum berakhir tanpa mantan saya. Saya harus tetap melanjutkan hidup, setidaknya untuk orang-orang terdekat yang menyayangi saya. Maka, saya putuskan untuk kembali menyusun hidup saya yang baru, membenahi apa-apa yang tertinggal, dan kembali bergairah menjalani hari. Walau terkadang dalam perjalanannya, saya masih galau di waktu-waktu tertentu, tapi it’s okay! Itu yang namanya proses. Dan seringkali galau itu terjadi secara alamiah. Tanpa diniatkan sebelumnya. Bagi saya, galau itu wajar asalkan kita bisa mengatasinya. Jadi, setiap saya merasa galau dan sedih mendadak, saya mencoba untuk memaklumi dan memaafkan diri saya sendiri. Lalu berusaha semaksimal mungkin untuk mengendalikan hati dan perasaan agar tidak galau dan sedih lagi. Itu semua adalah proses. Dan saya sangat menikmati perjalanan prosesnya J
            Setelah beberapa bulan, intensitas galau dan sedih saya mulai berkurang sedikit demi sedikit. Meskipun sedikit-sedikit, tapi akhirnya jadi bukit juga. Saya sudah mulai bisa mengontrol perasaan saya dengan sangat baik. Sakit hati saya pun mulai tersembuhkan. Hidup rasa-rasanya jadi jauh lebih indah dan bebas. Nafas sudah begitu segar dan tak lagi sesak. Apalagi ditambah momen tahun baru dimana saya menantang diri saya untuk memulai kehidupan baru yang lebih baik dan lebih ‘kaya’!
            A goal without plan and preparation is just a wish. Oleh karena itu, sebelum tahun baru, saya mulai menyusun target, strategi, rencana, dan hal-hal yang ingin saya eksplor lebih dalam di tahun 2014. Ketika menyusun itu semua, saya merasa hidup saya semakin bergairah dan menantang. Saya suka dengan kehidupan seperti ini dimana saya bebas berkarya, berkreasi, belajar, dan mencari pengalaman sebanyak-banyaknya. Alhasil, di detik pergantian tahun 2014 sampai sekarang, saya selalu menemukan kegiatan bermanfaat untuk mengisi hari-hari saya. Mulai dari seminar, kursus, routine exercise, belajar, rapat, diskusi, silaturahmi, tamasya, dan masih banyak lagi. Wow! Ternyata saya bisa bahagia ya tanpa pacar? Bahkan, saya merasa lebih berkembang dibandingkan sebelumnya ketika saya masih pacaran. Jadi, menurut saya, salah jika seseorang ingin punya pacar untuk bisa mendapatkan kebahagiaan. Karena sejatinya, kita pun bisa bahagia dengan cara kita sendiri. Kita sendiri lah yang harus menciptakan dan mengusahakan pencapaian kebahagian itu. Bukan orang lain. Bukan pacar kita. Malah, seringkali saya temui, orang-orang yang pacaran tidak lebih bahagia dari orang-orang yang independen dan single. Soal lain, ada juga orang-orang yang pengen banget punya pacar untuk mengisi kekosongan dan tidak merasa kesepian. Helloooo…. Being alone is not always being lonely. Kamu pun bisa tidak merasa sendiri dan kesepian meskipun kamu tidak pacaran. Kamu masih punya keluarga dan teman. Kamu juga masih punya segudang kegiatan yang bisa kamu kerjakan untuk mengisi kekosongan kamu. Moreover, tau gak kalau banyak sekali orang pacaran yang tetap merasa kesepian? Apalagi yang LDR atau sering ditinggal kekasihnya. Itu karena mereka tidak mau melengkapi diri mereka sendiri. Mereka menggantungkan sebagian hidup mereka pada kekasihnya. Tidak independen. Jadi, tak heran kalau mereka merasa selalu ingin dekat, haus perhatian, dan pengen ketemu kekasihnya terus-terusan.
            Entah apa penyebabnya, menurut saya kondisi menjadi single adalah  kondisi yang paling kondusif untuk memperbaiki dan mempersiapkan diri ke tahap hidup selanjutnya. Saya bukan tipikal wanita yang kebelet nikah. Selain karena umur saya masih 21 tahun, saya merasa bahwa pernikahan itu adalah gerbang kehidupan baru yang harus dipersiapkan sebaik-baiknya. Bagi saya, tidak perlu terburu-buru untuk memasuki gerbang itu. Meski tidak kebelet nikah dan kemungkinan pernikahan saya masih lama, persiapan menjadi istri dan ibu yang baik harus dimulai dari sekarang. Beberapa tahun sebelum menikah. Maka, saya menikmati hari-hari saya untuk mempersiapkan itu. Saya menghabiskan sebagian waktu saya untuk belajar parenting, belajar mengolah makanan, melakukan pekerjaan yang biasa dilakukan ibu rumah tangga, meningkatkan ilmu agama, dan lain-lain. Pada awalnya berat, namun semakin lama semakin terbiasa. Saya juga tidak lupa belajar hal-hal lain yang ingin saya kembangkan dan memang menjadi passion saya. Saya mulai menyibukkan diri dengan belajar mengenai kesehatan maternitas, kemampuan berbagai macam olahraga, dan public speaking dalam bahasa Inggris. Semua kegiatan itu banyak menguras waktu saya sehingga hampir tidak ada lagi waktu untuk galau dan bersedih. Kehidupan yang se-menantang dan se-produktif ini baru saya rasakan ketika saya menjadi seorang single dan independen.
            Ternyata, banyak sekali keuntungan yang saya dapatkan tatkala saya menjadi seorang single. I’m happy! Namun, bukan berarti saya memimpikan untuk menjadi seorang single selamanya. Hampir semua gadis menginginkan sebuah pernikahan dan membangun keluarga kecil yang bahagia. Begitu juga dengan saya. Hal yang perlu ditekankan adalah saya tidak lagi mau pacaran karena bagi saya pacaran adalah hubungan yang semu dan rentan. Tidak jelas, tidak kokoh, mudah menimbulkan fitnah, dan belum tentu membahagiakan. Saya yakin, Tuhan telah menentukan waktu yang tepat bagi saya untuk melepas masa single saya. Melalui pernikahan pastinya, bukan pacaran. Dan waktu yang tepat bagi saya adalah ketika saya telah independen baik secara materi, mental, dan karakter sehingga saya mampu menjalani fase interdependen bersama jodoh saya nanti. Kalau ditanya apakah saya menyesal pacaran, jawabannya tidak. Saya tidak menyesali kesalahan-kesalahan itu karena justru kesalahan-kesalahan itu yang memberi pengalaman, hikmah dan pembelajaran berharga. Kesalahan-kesalahan itu juga yang menjaga saya untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. Saya tidak menyesal pernah merasakan pacaran. Setidaknya dengan begitu, saya bisa merasakan dan memahami perasaan teman-teman wanita saya yang sedang didekati oleh seorang pria, dipacarin, atau juga diputusin. Saya bisa lebih berempati kepada mereka.
            Hal lain yang paling berharga jika menjadi seorang single adalah waktu bersama keluarga dan teman-teman. Waktu kita untuk keluarga dan teman-teman menjadi lebih banyak. Seringkali kita tidak  mengindahkan mereka tatkala kita bersama pacar atau kekasih kita. Seringkali kita lebih memprioritaskan waktu bersama pacar kita dibanding dengan keluarga atau sahabat-sahabat kita. Kalau keluarga punya fungsi biologis, psikologis, pendidikan, ekonomi, dan sosial budaya sejak kita masih jadi neonatus, kenapa setelah kita dewasa, kita justru tidak mengindahkan mereka? Kenapa kita tidak berbakti kepada mereka? Kenapa waktu kita malah banyak kita habiskan dengan pacar kita yang baru kita kenal beberapa tahun atau beberapa bulan yang lalu? Sekarang cobalah untuk refleksi diri. Jika kita bisa menjadi lebih baik dengan status ‘single’, kenapa harus repot-repot mempertahankan status ‘pacaran’? Kalau kita justru banyak menghadapi masalah ketika menjalani hubungan dengan seseorang, kenapa masih ngotot untuk dipertahankan? Jadi single itu gak jelek kok. Gak perlu malu. Apalagi kesepian. Being single is that great J
            Pesan terakhir. Saya berterima kasih kepada mantan saya yang telah memutuskan hubungan kami beberapa bulan lalu. Mantan saya ini memang cerdas dan tidak melulu mengandalkan perasaan dalam mengambil keputusan sehingga dia tahu keputusan terbaik untuk saya dan dia sendiri. Benar adanya, bahwa perpisahan ini justru membawa kebahagiaan, meskipun awalnya sangat menyakitkan. Tapi sakit itu sekarang sudah sembuh and I’m totally happy now. Kalau jodoh kan pasti bertemu, tapi sering-sering ketemu belum tentu jodoh. Jadi, let God do the rest. Tuhan tahu kok apa-apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Lebih tahu dibandingkan kita sendiri.
            Kembali lagi, saya bukan Tuhan yang berhak menghakimi pacaran itu benar atau salah. Dosa atau tidak. Saya tidak memaksa kamu untuk memutuskan pacar kamu atau mempertahankan kejombloan kamu. Itu semua hak kamu. Setiap tindakan pasti punya konsekuensi tersendiri. Jika kamu siap dengan konsekuensi pacaran, ya silakan. Jika kamu tidak siap dan memutuskan untuk memilih menjadi single, you also have that choice. Jadi….. pacaran itu Yay or Nay? ;)

Note : Mohon maaf sebelumnya, saya tidak bermaksud memamerkan diri saya yang sedang dalam proses pengembangan diri melalui tulisan ini. Saya hanya berniat untuk berbagi, siapa tahu bisa jadi insight untuk teman-teman sekalian. Terima kasih sudah membaca. Share if you think it deserves to be shared J

No comments:

Post a Comment