Mungkin pembahasan ini sering kamu
temui dari beberapa artikel atau kultweet ustadz twitter yang tidak perlu saya
sebutkan namanya karena kamu pasti sudah akrab dengan hashtag #UdahPutusinAja.
Tapi tenang saja. Disini saya bukan berlagak macam ustadzah yang memprovokasi
kamu untuk memutuskan pacarmu atau memaksa kamu untuk mempertahankan kejombloanmu.
Melalui tulisan ini, saya hanya ingin memberi gambaran dan pengalaman tentang
hidup saya sebelum dan setelah pacaran. Soal kamu ingin putus atau tidak dengan
pacar kamu setelah membaca tulisan ini, itu sepenuhnya hak kamu. Saya tidak
melarang kamu. Soal kamu ingin keep
single setelah membaca tulisan ini, itu juga hak kamu. Saya tidak memaksa
kamu J
Lebih
dari setengah tahun yang lalu saya punya seorang pacar yang sekarang sudah jadi
mantan. Sebenarnya, bukan sekali itu saya pacaran. Sejak SMA saya memang sudah
beberapa kali pacaran meskipun tidak berorientasi pada pernikahan. Atau bisa
dibilang hanya cinta monyet belaka. Berbeda dengan pacaran-pacaran sebelumnya,
saya mengorientasikan pacaran saya-setengah
tahun yang lalu- sebagai pacaran yang akan berujung pada pernikahan. Bagi
laki-laki, mungkin hal itu terlalu dini, terlalu cepat, terlalu gegabah,
terlalu…. Apalagi? Apapun itu, tapi menurut saya dan teman-teman wanita saya,
hal itu adalah hal yang lumrah dan sah-sah saja. Pemikiran wanita memang lebih
visioner, lebih cepat matang, dan berpikir ke depan. Itulah sebabnya, gak perlu
kaget kalau wanita ingin menikah lebih cepat dibandingkan pria.
Permasalahannya, apakah ‘pacaran’ bisa menjamin bahwa pada akhirnya akan
berlanjut ke pelaminan? Apakah ‘pacar’ kamu yang setiap hari sms kamu, telpon
kamu, tanya kabar kamu, tanya kamu lagi apa, bareng siapa, adalah 100% jodoh
kamu? Apakah ada jaminannya? It’s fine
kalau ternyata pacar kamu sekarang adalah memang benar jodoh kamu. Nah, kalau
bukan? Berapa waktu yang telah kamu habiskan? Berapa banyak energi yang sudah
kamu buang bersama orang yang bukan jodoh kamu? Mungkin quote ini bisa
merepresentasikan hal itu: Someone you
text everyday and hang out so often, can just turn into a complete stranger the
next moment (anonym). Sudah siap kalau ternyata hal itu terjadi? Hanya kamu
sendiri yang punya jawabannya J
Saya
tahu kok rasanya putus dengan pacar. Saya paham rasanya patah hati. Dulu, waktu
baru-baru putus, saya merasa hancur sekali. Hidup segan, mati ya mau mau
enggak. Semuanya yang indah jadi tak indah dalam sekejap. Segala tawa hilang
ditelan naga. Kebahagian seakan runtuh seperti pantai yang sedang mengalami
abrasi. Setiap hari mendengarkan lagu sedih biar pas dengan suasana hati waktu
itu. Sedikit-sedikit sesegukan menangis. Beberapa menit sekali baca ulang percakapan
saya dengan mantan saya di whatsapp. Atau sesekali ngepo twitter dan facebook
mantan. Pokoknya, galau to the max!
Saya merasa bodoh? Tentu saja tidak J Bagi kamu yang sudah pernah merasakan bagaimana rasanya
putus dengan orang yang kamu cintai pasti bisa memahami ini. Apalagi orang itu
adalah harapan masa depan kamu, Merasa sedih itu wajar. Kalau saya gembira
jingkrak-jingkrak, ya itu yang tidak wajar dan mungkin harus dilarikan ke rumah
sakit jiwa.
Kurang
lebih 1-2 bulan saya merasa dalam masa-masa krisis emosional itu. Perjalanan
yang panjang untuk melupakan seorang mantan. Hidup tak bergairah, nafsu makan
menurun, sering melamun, tidak produktif. Pokoknya benar-benar menguras energi,
waktu, dan pikiran. Untungnya ada keluarga yang selalu menyemangati dan
sahabat-sahabat yang selalu menemani. Pada akhirnya, saya sadar bahwa hidup
saya terus berjalan. Hidup saya belum berakhir tanpa mantan saya. Saya harus
tetap melanjutkan hidup, setidaknya untuk orang-orang terdekat yang menyayangi
saya. Maka, saya putuskan untuk kembali menyusun hidup saya yang baru,
membenahi apa-apa yang tertinggal, dan kembali bergairah menjalani hari. Walau
terkadang dalam perjalanannya, saya masih galau di waktu-waktu tertentu, tapi it’s okay! Itu yang namanya proses. Dan
seringkali galau itu terjadi secara alamiah. Tanpa diniatkan sebelumnya. Bagi
saya, galau itu wajar asalkan kita bisa mengatasinya. Jadi, setiap saya merasa
galau dan sedih mendadak, saya mencoba untuk memaklumi dan memaafkan diri saya
sendiri. Lalu berusaha semaksimal mungkin untuk mengendalikan hati dan perasaan
agar tidak galau dan sedih lagi. Itu semua adalah proses. Dan saya sangat
menikmati perjalanan prosesnya J
Setelah
beberapa bulan, intensitas galau dan sedih saya mulai berkurang sedikit demi
sedikit. Meskipun sedikit-sedikit, tapi akhirnya jadi bukit juga. Saya sudah mulai
bisa mengontrol perasaan saya dengan sangat baik. Sakit hati saya pun mulai
tersembuhkan. Hidup rasa-rasanya jadi jauh lebih indah dan bebas. Nafas sudah
begitu segar dan tak lagi sesak. Apalagi ditambah momen tahun baru dimana saya
menantang diri saya untuk memulai kehidupan baru yang lebih baik dan lebih
‘kaya’!
A
goal without plan and preparation is just a wish. Oleh karena itu, sebelum
tahun baru, saya mulai menyusun target, strategi, rencana, dan hal-hal yang
ingin saya eksplor lebih dalam di tahun 2014. Ketika menyusun itu semua, saya
merasa hidup saya semakin bergairah dan menantang. Saya suka dengan kehidupan
seperti ini dimana saya bebas berkarya, berkreasi, belajar, dan mencari
pengalaman sebanyak-banyaknya. Alhasil, di detik pergantian tahun 2014 sampai
sekarang, saya selalu menemukan kegiatan bermanfaat untuk mengisi hari-hari
saya. Mulai dari seminar, kursus, routine
exercise, belajar, rapat, diskusi, silaturahmi, tamasya, dan masih banyak
lagi. Wow! Ternyata saya bisa bahagia ya tanpa pacar? Bahkan, saya merasa lebih
berkembang dibandingkan sebelumnya ketika saya masih pacaran. Jadi, menurut
saya, salah jika seseorang ingin punya pacar untuk bisa mendapatkan
kebahagiaan. Karena sejatinya, kita pun bisa bahagia dengan cara kita sendiri.
Kita sendiri lah yang harus menciptakan dan mengusahakan pencapaian kebahagian
itu. Bukan orang lain. Bukan pacar kita. Malah, seringkali saya temui,
orang-orang yang pacaran tidak lebih bahagia dari orang-orang yang independen
dan single. Soal lain, ada juga orang-orang yang pengen banget punya pacar
untuk mengisi kekosongan dan tidak merasa kesepian. Helloooo…. Being alone is not always being lonely.
Kamu pun bisa tidak merasa sendiri dan kesepian meskipun kamu tidak pacaran.
Kamu masih punya keluarga dan teman. Kamu juga masih punya segudang kegiatan
yang bisa kamu kerjakan untuk mengisi kekosongan kamu. Moreover, tau gak kalau banyak sekali orang pacaran yang tetap
merasa kesepian? Apalagi yang LDR atau sering ditinggal kekasihnya. Itu karena
mereka tidak mau melengkapi diri mereka sendiri. Mereka menggantungkan sebagian
hidup mereka pada kekasihnya. Tidak independen. Jadi, tak heran kalau mereka
merasa selalu ingin dekat, haus perhatian, dan pengen ketemu kekasihnya
terus-terusan.
Entah
apa penyebabnya, menurut saya kondisi menjadi single adalah kondisi yang paling kondusif untuk
memperbaiki dan mempersiapkan diri ke tahap hidup selanjutnya. Saya bukan
tipikal wanita yang kebelet nikah. Selain karena umur saya masih 21 tahun, saya
merasa bahwa pernikahan itu adalah gerbang kehidupan baru yang harus
dipersiapkan sebaik-baiknya. Bagi saya, tidak perlu terburu-buru untuk memasuki
gerbang itu. Meski tidak kebelet nikah dan kemungkinan pernikahan saya masih lama,
persiapan menjadi istri dan ibu yang baik harus dimulai dari sekarang. Beberapa
tahun sebelum menikah. Maka, saya menikmati hari-hari saya untuk mempersiapkan
itu. Saya menghabiskan sebagian waktu saya untuk belajar parenting, belajar mengolah
makanan, melakukan pekerjaan yang biasa dilakukan ibu rumah tangga,
meningkatkan ilmu agama, dan lain-lain. Pada awalnya berat, namun semakin lama
semakin terbiasa. Saya juga tidak lupa belajar hal-hal lain yang ingin saya kembangkan
dan memang menjadi passion saya. Saya mulai menyibukkan diri dengan belajar
mengenai kesehatan maternitas, kemampuan berbagai macam olahraga, dan public speaking dalam bahasa Inggris.
Semua kegiatan itu banyak menguras waktu saya sehingga hampir tidak ada lagi
waktu untuk galau dan bersedih. Kehidupan yang se-menantang dan se-produktif
ini baru saya rasakan ketika saya menjadi seorang single dan independen.
Ternyata,
banyak sekali keuntungan yang saya dapatkan tatkala saya menjadi seorang
single. I’m happy! Namun, bukan
berarti saya memimpikan untuk menjadi seorang single selamanya. Hampir semua
gadis menginginkan sebuah pernikahan dan membangun keluarga kecil yang bahagia.
Begitu juga dengan saya. Hal yang perlu ditekankan adalah saya tidak lagi mau
pacaran karena bagi saya pacaran adalah hubungan yang semu dan rentan. Tidak
jelas, tidak kokoh, mudah menimbulkan fitnah, dan belum tentu membahagiakan. Saya
yakin, Tuhan telah menentukan waktu yang tepat bagi saya untuk melepas masa
single saya. Melalui pernikahan pastinya, bukan pacaran. Dan waktu yang tepat
bagi saya adalah ketika saya telah independen baik secara materi, mental, dan
karakter sehingga saya mampu menjalani fase interdependen bersama jodoh saya
nanti. Kalau ditanya apakah saya menyesal pacaran, jawabannya tidak. Saya tidak
menyesali kesalahan-kesalahan itu karena justru kesalahan-kesalahan itu yang
memberi pengalaman, hikmah dan pembelajaran berharga. Kesalahan-kesalahan itu
juga yang menjaga saya untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. Saya tidak
menyesal pernah merasakan pacaran. Setidaknya dengan begitu, saya bisa
merasakan dan memahami perasaan teman-teman wanita saya yang sedang didekati
oleh seorang pria, dipacarin, atau juga diputusin. Saya bisa lebih berempati
kepada mereka.
Hal
lain yang paling berharga jika menjadi seorang single adalah waktu bersama
keluarga dan teman-teman. Waktu kita untuk keluarga dan teman-teman menjadi
lebih banyak. Seringkali kita tidak
mengindahkan mereka tatkala kita bersama pacar atau kekasih kita. Seringkali
kita lebih memprioritaskan waktu bersama pacar kita dibanding dengan keluarga
atau sahabat-sahabat kita. Kalau keluarga punya fungsi biologis, psikologis,
pendidikan, ekonomi, dan sosial budaya sejak kita masih jadi neonatus, kenapa
setelah kita dewasa, kita justru tidak mengindahkan mereka? Kenapa kita tidak
berbakti kepada mereka? Kenapa waktu kita malah banyak kita habiskan dengan
pacar kita yang baru kita kenal beberapa tahun atau beberapa bulan yang lalu?
Sekarang cobalah untuk refleksi diri. Jika kita bisa menjadi lebih baik dengan
status ‘single’, kenapa harus repot-repot mempertahankan status ‘pacaran’?
Kalau kita justru banyak menghadapi masalah ketika menjalani hubungan dengan
seseorang, kenapa masih ngotot untuk dipertahankan? Jadi single itu gak jelek
kok. Gak perlu malu. Apalagi kesepian. Being
single is that great J
Pesan
terakhir. Saya berterima kasih kepada mantan saya yang telah memutuskan
hubungan kami beberapa bulan lalu. Mantan saya ini memang cerdas dan tidak
melulu mengandalkan perasaan dalam mengambil keputusan sehingga dia tahu
keputusan terbaik untuk saya dan dia sendiri. Benar adanya, bahwa perpisahan
ini justru membawa kebahagiaan, meskipun awalnya sangat menyakitkan. Tapi sakit
itu sekarang sudah sembuh and I’m totally
happy now. Kalau jodoh kan pasti bertemu, tapi sering-sering ketemu belum
tentu jodoh. Jadi, let God do the rest.
Tuhan tahu kok apa-apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Lebih tahu dibandingkan
kita sendiri.
Kembali
lagi, saya bukan Tuhan yang berhak menghakimi pacaran itu benar atau salah.
Dosa atau tidak. Saya tidak memaksa kamu untuk memutuskan pacar kamu atau
mempertahankan kejombloan kamu. Itu semua hak kamu. Setiap tindakan pasti punya
konsekuensi tersendiri. Jika kamu siap dengan konsekuensi pacaran, ya silakan.
Jika kamu tidak siap dan memutuskan untuk memilih menjadi single, you also have that choice. Jadi…..
pacaran itu Yay or Nay? ;)
Note : Mohon maaf sebelumnya, saya tidak
bermaksud memamerkan diri saya yang sedang dalam proses pengembangan diri
melalui tulisan ini. Saya hanya berniat untuk berbagi, siapa tahu bisa jadi insight untuk teman-teman sekalian.
Terima kasih sudah membaca. Share if you
think it deserves to be shared J
No comments:
Post a Comment